Selasa, 30 Juni 2015

Fatiha


Namanya Fatiha, dia orang jawa asli, usianya sekarang baru 25 tahun, aktivis perempuan di kampus, sedang melanjutkan pascasarjana dan profesinya seorang konsultan. Muda, energik, dan cerdas.
Bagaimana nak rangga, mau taaruf tidak dengan akhwat ini.
Ungkap umi misma, membuka obrolan malam itu dengan penuh semangat.  
Sepertinya dia perempuan yang luar biasa ya umi, saya siap taaruf dengannya. Jawabku tegas.
Alhamdulillah, nanti umi akan hubungi fatiha dulu, besok biasanya dia mampir kemari untuk bertemu anak-anak santri. Jelas umi misma dengan senyum bahagianya.
Saya pamit dulu umi, salam buat abi, 1 minggu lagi saya baru bisa kemari, makasih umi, assalamualaikum.
Pamitku dengan suasana hati yang mulai deg-degan.
Iya nak, waalaikumsalam.  
Jawab umi misma dengan senyum keibuannya yang menghangatkan.
Aku rangga, usiaku 28 tahun, sudah lulus S2 dan profesiku dosen, aku juga buka usaha bisnis kafe woman only, kafe khusus para wanita yang ingin menghabiskan waktunya di kafe dengan bebas karena semuanya khusus perempuan. Tujuanku untuk berdakwah pada kaum perempuan, karena di setiap minggunya di kafe ada pengajian khusus perempuan. Di usiaku yang masih kepala 2 ini aku ingin segera menunaikan sunnah Rosul, untuk itu aku meminta bantuan umi misma, perempuan hebat dan keibuan yang juga tidak lain adalah bu lekku. Abi, panggilan untuk suami umi misma, adalah kakak pertama dari ayahku, yang tidak lain berarti pak lek. Aku lebih senang memanggil keduanya dengan panggilan abi dan umi, sebab mereka adalah pengasuh pondok pesantren khusus putri di jogja, namanya pondok pesntren darul qalam.
Hari ini umi misma mengenalkanku dengan seorang perempuan yang luar biasa, meskipun aku tidak mengenalnya dan belum pernah bertemu dengannya, tapi mendengar umi misma menceritakan tentangnya membuatku kagum dan memutuskan untuk bertaaruf dengannya. Perempuan mana yang hari ini mau jadi aktivis kampus di usia yang sudah 25, usia perempuan yang kebanyakan akan memilih segera menikah.
***
Assalamualaikum umi, apakabar umi, sudah satu minggu ini tidak bertemu umi kok rasanya saya kangen.
Seorang perempuan dengan balutan gamis dan jilbab panjang coklat tiba-tiba muncul dari pintu asrama putri darul qalam.
Waalaikumsalam, alhamdulillah nak fatiha, akhirnya mampir juga kesini, umi juga kangen, ada sesuatu yang ingin umi sampaikan.
Ungkap perempuan yang dipanggil umi.
Apa ada ya umi, kok saya jadi khawatir, ada masalah lagi dengan anak?Biar anaknya ketemu dulu dengan saya.
Tanya perempuan yang dipanggil fatiha penasaran.
Nak fatiha ini yang dikhawatirkan selalu anak santri, bukan, ini tidak ada hubungan dengan santri, tapi tentang nak fatiha, kehidupan nak fatiha.
Jelas umi.
Kehidupanku? Maaf terkait apa umi?
Tanyanya penasaran. Wajahnya mendadak memerah cemas. Jauh dilubuk hatinya ia mulai merasa khawatir.  
Begini, ada laki-laki baik yang sedang mencari calon istri, anaknya baik, udah lulus s2, sekarang jadi dosen, dia juga punya usaha, usianya saat ini 28 tahun, dan dia ingin taaruf dengan nak fatiha. Bagaimana nak fatiha, setuju ndak umi taarufkan.
Ungkap umi dengan penjelasan yang cukup bijaksana.
Ya ampun umi, saya kira ada apa.
Ia mulai bernafas lega. Rasa khawatirnya mendadak sirna. Wajah tegangnya meregang.
Loh, umi serius nak, di usia nak fatiha sekarang ini diluar sana banyak gadis yang menginginkan segera menikah, seharusnya nak fatiha juga begitu. Jelas umi misma memprovokasi.
Umi ini, jodoh kan sudah ada yang ngatur, saya tidak khawatir kok umi.
Ungkap fatiha berusaha menolak secara halus. Dalam hatinya juga berpikir soal menikah, siapa yang tak ingin menikah dan bahagia berkeluarga, tapi ada sesuatu hal yang menahannya. Sesuatu yang ia sembunyikan sejak dulu dari siapapun. Dan bila sudah membahas soal pernikahan sampai tahap taaruf, sesuatu itu mau tak mau akan tersingkap, dan masa lalu kelam yang sudah ia kubur mati-matian akan membuatnya teringat kembali.
Apa ndak dicoba dulu nak.kalau ndak cocok kan boleh tidak dilanjutkan.
Bujuk umi dengan wajah kecewa yang berusaha ditahannya. 
Umi, saya mohon maaf sudah mengecewakan umi, tapi untuk saat ini saya belum memikirkan soal menikah, masih ada hal lain yang harus saya kerjakan. Kalau sudah waktunya, saya pasti akan menikah.
Ungkapnya dengan wajah penuh sesal. Sejujurnya ia tak ingin mengecewakan apalagi sampai menyakiti hati umi misma, perempuan paruh baya yang sudah dia anggap ibu kandungnya sendiri. Tapi apa mau dikata, ketakutan masa lalu membuatnya takut untuk taaruf.
Baiklah nak, umi tak bisa memaksa, walaupun umi sudah begitu bersemangat menceritakan nak fatiha pada pihak laki-laki karena umi merasa kalian sama-sama cocok, tapi keputusan tetap ada di tangan nak fatiha.
Jelas umi dengan semburat kecewa di wajahnya yang tak bisa lagi disembunyikan.
Sekali lagi maafin saya umi.
Wajah penuh sesal fatiha pun tak bisa ia sembunyikan.
Akhirnya fatiha pun pamit pulang. Suasana kamar umi misma kembali lengang, yang tersisa hanya umi misma yang merasa kecewa dengan keputusan fatiha yang tak diduganya. Entah ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan fatiha darinya.
Siang itu menjadi siang yang canggung. Tidak hanya bagi umi misma, sepulang dari asrama darul qalam, fatiha, gadis sederhana yang punya lesung pipi di wajahnya itu pun merasa bersalah, pulang ke kontrakannya, ia terduduk lemas di kursi. Tidak ada alasan untuk menolak seseorang yang punya niat baik untuk taaruf, apalagi orang yang dikenal umi misma dan suaminya, pasti orang ini adalah laki-laki yang baik dan soleh. Dia juga tidak punya alasan untuk menunda pernikahan. Namun masa lalu kelamnya membuat ingatannya kembali kalau sudah pembahasan soal pernikahan. Kalau sudah soal taaruf,  ia masih tidak punya keberanian untuk menceritakan siapa dia sebenarnya. Ia takut ketika calon laki-laki yang ingin taaruf dengannya tahu siapa dia sebenarnya justru akan memilih pergi dan tidak melanjutkan taaruf.
***
1 minggu kemudian, di asrama darul qalam.
Assalamualaikum, umi, abi..
Seorang lelaki berkacamata muncul dibalik pintu.
Waalaikumsalam, eh rangga, udah pulang dari bandung yah, abi lagi ngisi pengajian di masjid. Mari masuk nak.
Jawab umi dari dalam kamarnya.
Saya ganggu yah umi, maaf yah, ini tadi mampir sambil bawa oleh-oleh dari bandung.
Jelas rangga sambil memberikan sekantong plastik dodol dan mochi, makanan khas jawa barat.
Ndak kok, umi Cuma lagi nonton berita sambil nunggu abi pulang dari masjid. Matur nuwun nih rangga baik sekali bawa oleh-oleh segala buat umi sama abi. Gimana kabar ibu dan bapak di rumah?
Jawab umi sembari menerima plastik dari tangan rangga.
Ibu bapak baik-baik saja umi, tadi saya juga pulang dulu ke rumah, ngobrol sama bapak, terus ke rumah saya istirahat dan lanjut ke sini deh.
Jelas rangga.
Oh syukurlah kalau begitu.
Balas umi, kali ini dengan raut wajah yang berbeda.
Umi kenapa, kok mendadak wajahnya jadi lemes gitu, umi sakit?
Tanya rangga khawatir.
Bukan nak, umi baik-baik saja. Ini loh soal taaruf dengan perempuan bernama fatiha itu, sudah umi sampaikan maksud baik rangga, sudah umi jelaskan kondisi rangga sekarang tapi umi ndak nyangka dengan jawabannya. Dia bilang belum memikirkan untuk menikah dalam waktu dekat ini jadi dia menolak untuk taaruf.
Jelas umi dengan raut wajah kecewa yang sudah ia simpan berhari-hari lalu.
Begitu ya mi, tapi memang jodoh kan tidak bisa dipaksakan, saya berharap ada jalan bisa mengenalnya lebih dalam, entah bagaimana caranya biar diatur Allah.
Rangga menjawab dengan tenang. Meski jauh dalam hatinya ia juga kecewa, tapi ia merasa menemukan sesuatu yang baru, dan ia ingin semua mengalir dengan semestinya, tidak perlu dipaksa.
Dan sejak kejadian gagalnya taaruf itu semua berjalan seperti biasanya, rangga masih sibuk dengan bisnis kafe dan menjadi dosen di universitas. Sementara fatiha juga tak kalah sibuk, ia sedang proses merampungkan thesisnya, menulis buku tentang perempuan di ranah publik dan tetap aktif menjadi konsultan untuk para wanita baik kalangan remaja maupun ibu beranak lima. Dan umi misma, ibu pondok pesantren darul qalam, yang menjadi penghubung taaruf mereka perlahan mulai melupakan kekecewaannya dan tetap akrab dengan fatiha seperti biasanya. Hingga suatu hari, takdir mempertemukan kedua insan yang gagal taaruf itu. Kalau memang jodoh bagaimana pun jalannya Allah pasti akan mempertemukannya.
Suatu siang di ruang dosen pascasarjana universitas negri ternama di kota Jogja, kampus tempat fatiha melanjutkan s2 nya. Saat itu fatiha sedang sibuk-sibuknya bimbingan dengan dosen pembimbing thesisnya. Tapi di saat-saat penting itulah profesor yang membimbing thesisnya menyampaikan berita tentang kepergiannya ke Malasyia. Ada pertemuan penting ilmuwan dan cendekiawan ke negri jirah itu. Dan kepergian itu tidak hanya satu dua hari tapi sekitar 6 bulan, karena setelah pertemuan di Malasyia, profesor pembimbingnya akan melanjutkan perjalanannya ke Australia, ada semacam pelatihan atau training 6 bulan untuk profesor dan guru besar. Berita itu seperti petir menyambar, fatiha terduduk lemas mendengarnya. Namun di tengah-tengah kaget dan kesalnya ia dengan kepergian dosen pembimbingnya, profesor pembimbingnya itu mengatakan akan ada dosen pembimbing penggantinya, masih muda, cerdas dan lebih kompeten dengan bidang yang sekarang menjadi topik penelitian fatiha, yaitu tentang gender dan kesetaraan. Profesornya mengatakan dosen ini sebenarnya dosen baru, usianya juga masih muda, tapi karena kualitas dan kecerdasannya, dalam waktu singkat ia sudah diangkat jadi doktor.
Mendengar penjelasan tentang dosen pembimbing barunya fatiha menjadi bergairah dan penuh semangat, ia tak sabar ingin segera bertemu dengan dosen pembimbing barunya, ia ingin segera menyelesaikan thesisnya, ingin segera lulus, dan hal lainnya, kalau memang muda, ia bisa nyaman berdiskusi dengan dosen pembimbingnya itu, karena biasanya, dosen muda itu ghirah keilmuannya masih di masa-masa keemasaan. Artinya penuh semangat yang berapi-api, maklum jiwa muda.
Setelah mendapat nomor baru dosen pembimbing barunya dari profesor pembimbingnya, ia segera menghubungi dan menanyakan kapan bisa bertemu dan mendiskusikan tentang thesisnya. dan sore itu, dua insan yang gagal taaruf itu bertemu, fatiha tidak tahu, laki-laki baik yang sudah ia tolak tawarannya untuk taaruf itu adalah dosen pembimbing muda yang ingin segera ia temui. Tuhan memang selalu punya rencana terbaik untuk mereka.
Sore itu, langit masih sama, cerah, tidak ada tanda-tanda akan turun hujan, tapi suasana sore ini akan ada yang berbeda, ada takdir baru yang tertulis. Fatiha tengah bersemangat menuju perpustakaan, dosen pembimbing barunya itu mengatakan untuk bertemu di perpustakaan, sekalian dia ingin mengembalikan buku pinjamannya. Dan ketika fatiha sampai di depan pintu perpustakaan besar dan 3 lantai itu, seorang laki-laki muda, memakai setelan kemeja panjang coklat muda, celana hitam panjang sedang duduk menghadap jendela, tengah asyik membaca buku, melihatnya fatiha sudah langsung bisa menebak itulah dosen barunya itu, sebab tadi di sms dikatakan ia menunggu di lantai 1 memakai kemeja coklat.
Dengan nafas tersengal, ia menyapa lebih dulu dosen pembimbing barunya itu.
Assalamualaikum, permisi, apa bapak yang akan menjadi dosen...
Belum selesai kalimatnya terucap, ia mendadak berdiri mematung ketika dosen pembimbing barunya itu berbalik badan menjawab salamnya dan mereka bertatap mata secara langsung.
Sore itu takdir baru tertulis, dua insan yang gagal taaruf justru dipertemukan di waktu dan momen yang tidak pernah mereka duga.
Fatiha mendadak kikuk, ia tertunduk malu, semangat yang ia bawa untuk bertemu dosen pembimbing barunya itu seketika sirna berubah menjadi rasa malu dan canggung.
Waalaikumsalam, iya saya dosen pembimbing baru anda, saya rangga. Ada yang bisa bantu?
Jawab rangga, dosen pembimbing baru fatiha sekaligus laki-laki yang ingin taaruf dengannya tapi gagal dengan tenang seperti tidak ada yang terjadi.
Fatiha mengenal wajah rangga, ketika umi misma mengenalkan tentang laki-laki yang ingin taaruf dengannya sekaligus juga umi memperlihatkan foto rangga di handphone umi misma, foto saat rangga di wisuda, juga ada foto rangga sendirian di depan sebuah kafe, kafe milik rangga.
Dan fatiha mengingatnya, ia mengingat jelas wajah yang sejujurnya ingin juga ia kenal, ingin bertaaruf tapi lagi-lagi alasan masa lalu membuatnya memilih menolak. Sementara rangga, meskipun ia juga tahu gadis itu adalah fatiha, mahasiswa bimbingannya, tentu saja ia tahu, selain umi misma juga memperlihatkan foto fatiha, profesor pembimbing yang meminta menggantikannya menyerahkan data pribadi fatiha termasuk di dalamnya ada foto ukuran 3x4, dengan jilbab merah tua, gadis itu tersenyum manis di foto, tapi rangga sudah berjanji pada dirinya akan berpura-pura tidak tahu, ia tak ingin keadaan itu membuat mereka canggung, ia juga ingin mengenal lebih jauh tentang gadis itu, sementara itu ia harus berpura-pura tidak terjadi apapun atau tidak pernah mengenal fatiha sebelumnya.
Jadi siapa namanya mba? Ada yang bisa saya bantu?
Pertanyaan rangga membuat fatiha tersadar dari kekagetannya.
Eh, em, iya nama saya fatiha, jadi saya mengangkat tema gender dan kesetaraan ini karena saya merasa perlu membenarkan pemahaman masyarakat terkait kesetaraan yang dimaksud dalam Islam, isu ini sedang hangat-hangatnya dalam dunia keilmuan kita saat ini.
Dan mengalirlah diskusi keduanya. Akting hebat rangga membuat fatiha lebih nyaman berbicara, ia perlahan melupakan tentang rasa malu dan canggungnya, ia berbisik dalam hatinya, mungkin saja rangga tidak tahu fatiha, jadi dia bisa bersikap biasa saja, karena itu aku juga harus bersikap biasa saja. Dan rangga memang bersikap profesional, dalam hal ini ia posisinya sebagai dosen pembimbing dan fatiha mahasiswanya, jangan sampai soal hati menganggu ranah keilmuan mereka, apalagi ini terkait thesis fatiha, hal penting yang tidak ingin ia ganggu. Selama 1 bulan lebih intensitas pertemuan mereka jadi lebih sering, dan thesis fatiha sudah hampir selesai, tinggal menunggu panggilan sidang, sekitar 1 minggu lagi mungkin ia bisa sidang thesis. Sementara jauh dalam hati rangga, ketertarikannya pada gadis itu tidak berkurang sedikitpun justru bertambah setiap harinya, begitu juga fatiha, diam-diam dalam hatinya ia juga menyukai rangga. Dan selepas sidang, ia memantapkan hatinya untuk bertemu dengan umi misma, menyampaikan keputusan yang mengejutkan.
Ia mengunjungi umi misma dan basa basi menceritakan kebahagiaannya tentang sidang thesisnya yang sukses, sekitar 1 bulan lagi ia wisuda pascasarjana. Dan ia juga menyampaikan tentang hal mengejutkan umi misma, hal yang sudah ia pikirkan matang-matang sejak sebelum sidang thesis. Ia ingin bertaaruf dengan rangga, laki-laki yang ia tolak beberapa bulan lalu. Dan meminta maaf pada umi bahwa keputusan ini baru bisa ia sampaikan sekarang, mungkin karena ia juga ingin melepas tanggungjawab s2 nya lebih dulu baru menikah, ditambah ia juga diam-diam sudah menyukai rangga, dosen pembimbingnya.
Akhirnya keesokan harinya, di malam jumat, kedua insan itu bertemu lagi, bukan sebagai dosen dan mahasiswa tapi sebagai dua orang yang sudah menyimpan perasaan dalam hatinya masing-masing dan berniat baik untuk menjalankan sunnah Rosul bila taaruf ini berjalan lancar dan Allah menghendaki.
Rangga mendahului percakapan, ia menjelaskan tentang dirinya, kesibukannya, hobbynya sampai rencana-rencana masa depannya ia jelaskan pada fatiha, dengan maksud bila memang fatiha kelak menjadi pendamping hidupnya bisa tahu impian laki-laki berkacamata itu.
Giliran fatiha, perasaan yang ada dalam hatinya membuatnya lupa tentang siapa dirinya, tentang masa lalunya, dan pada saat gilirannya tiba memperkenalkan diri, mendadak ia gemetaran, tangannya berkeringat dingin, tenggorokannya tercekat, keberaniannya hilang dalam sekejap. Tentu saja sikap aneh fatiha itu membuat umi misma, abi soleh dan rangga menjadi heran dan terkejut. Mengapa tiba-tiba fatiha menjadi ketakutan.
Perasaannya yang tulus pada rangga dan keinginannya untuk menunaikan separuh agama memunculkan keberaniannya meski berat, meski kata-kata tercekat di kerongkongan, ia berusaha tetap buka suara, dan puncaknya, air mata yang menjadi pertanyaan besar yang hadir pada malam itu seketika mengalir deras di pipi gadis sederhana sekaligus menyimpan tanya itu.
Semua yang hadir heran, ada apa dengan fatiha, gadis berani, cerdas dan tangguh itu, malam ini mendadak ia menjadi terlihat ketakutan, khawatir dan menyimpan banyak tanya.
Ada apa nak? Nak fatiha sakit? Kenapa tiba-tiba menangis?
Umi misma yang duduk berdekatan dengan abi soleh berpindah duduk mendekati fatiha, mengusap punggungnya lembut dan mencoba bertanya dengan perlahan-lahan tentang apa yang ia rasakan.
Ia sadar betul, masa lalu adalah ingatan pahit yang tak bisa lenyap, tapi ia akan tetap ada dalam ingatan, hanya saja apakah masa lalu itu bisa diterima oleh rangga, laki-laki yang sedang bertaaruf dengannya, tapi menyimpannya sendirian adalah juga dosa terbesarnya sebab menyimpan aibnya pada laki-laki yang mungkin saja akan menjadi pasangan hidupnya. Air mata dihapusnya dengan tissue yang ada di atas meja tamu. Ia beranikan diri buka suara.
Mas rangga, umi, abi, saya minta maaf kalau sikap saya menganggu semuanya, saya takut apa yang saya ceritakan tidak bisa diterima oleh mas rangga, saya takut mas rangga justru akan membatalkan taaruf ini setelah tahu siapa saya sebenarnya.
Alhamdulillah saya sekarang memang muslimah yang bisa menjalankan ibadah dengan baik meskipun saya tidak tahu Allah akan menerima ibadah saya atau tidak, tapi saya sudah berusaha berubah sejak 10 tahun yang lalu. Saya bisa kuliah dan belajar dengan baik pada saat sekarang berkat usaha saya ingin berubah dan mencari beasiswa tanpa kenal lelah. Saya juga bisa menjadi konsultan untuk para wanita yang bermasalah karena masa lalu saya yang bermasalah. Umi, abi, mas rangga, saya sudah tidak perawan lagi.
Tercekat. Air matanya tumpah, fatiha sesenggukan berusaha menahan kesedihan dan lukanya, sementara ia ingin melanjutkan penjelasannya, umi misma sudah memeluknya erat.
Saya dulu gadis bermasalah ketika SMA, pergaulan saya buruk, saya pernah pacaran dengan seorang laki-laki sampai kejadian buruk itu menimpa saya, karena khilaf dan bodohnya saya ketika itu saya rela begitu saja melakukan dosa besar dengan laki-laki yang waktu itu saya cintai, selepas itu dia malah meninggalkan saya karena saya memintanya menikah dan dia tidak mau. Alhamdulillah Allah masih memberikan saya hidayah dan petunjukNya, saya tidak sampai hamil dan semenjak itu saya pindah ke pesantren dan belajar ilmu agama hingga bisa sampai sekarang seperti ini.
Suasana di ruang tamu umi misma lengang. Tidak terkecuali rangga, umi dan abi menahan nafas berat. Mereka tidak pernah menduga hal seperti ini bisa terjadi pada fatiha dan tentu saja ini membuat rangga kaget dan down.
Rangga meminta pamit pulang lebih dulu, forum taaruf malam itu ditutup, tidak ada kata-kata apapun, rangga tidak menolak atau menjawab, ia hanya melangkah pergi dengan lemas dan kaget bukan main. Umi misma memeluk fatiha dan menenagkannnya, abi soleh masuk kamar.
15 menit kemudian, fatiha pamit pulang. Tangisnya sudah reda, tapi sedih dan kecewa di hatinya tentu saja tidak hilang, ia memang harus siap dengan kenyataan rangga pasti akan terkejut dan menolaknya.
1 hari kemudian.
Pagi-pagi buta, fatiha terbangun, ia masih dirundung duka, hanya do’a yang bisa ia panjatkan padaNya, diberikan jalan kemudahan untuk semua masalahnya. Dan itulah ajaibnya do’a, saat itu juga Tuhan kabulkan.
Ada 1 pesan masuk di hpnya.
Assalamualaikum.. Fatiha yang disayang Allah, sepanjang hari saya berdo’a pada Allah diberikan jawaban atas keresahan saya, dan Allah memberikan kamu sebagai jawabannya. Saya tidak peduli dengan masa lalumu seburuk apapun itu, saya hanya tahu fatiha yang sekarang, muslimah baik dan cerdas, dan saya ingin kamu di masa depan. Kalau kamu siap menjadi ibu dari anak-anak saya kelak datanglah ke rumah umi misma, saya sudah menunggumu disini dengan pak penghulu. Tak perlu dandan, kamu sudah cantik kok J.
Tanpa ragu, fatiha segera berganti pakaian dan meninggalkan kamarnya yang masih berantakan, menuju seseorang yang ia rindukan. Seseorang yang akan menggenapi hatinya dan menerima semua kekurangannya.










0 komentar:

Posting Komentar

 
;