Siang
itu di langit madinah, awan putih dan langit biru tiba-tiba berubah menjadi
kelam dan geram, tidak ada tanda-tanda hujan atau badai akan datang, karena
hujan dan badai memang sangat jarang terjadi di kota yang bercahaya itu, tapi
kelamnya langit bukan karena tanda hujan akan turun melainkan karena sebuah
kemarahan besar dari seorang lelaki yang baru saja kembali dari perjalanan
panjang.
“Dimana wanita yang
melahirkan dan menyusui anas?”
Teriak seorang
lelaki di depan rumahnya, sambil berusaha masuk dan mencari-cari wanita yang ia
maksud.
Dari serambi rumah
muncul seorang wanita cantik dengan wajah keibuan menjawab dengan tegas
“Aku disini wahai
ayah anas, ada gerangan apa kau mencariku?”
Lelaki tadi berkata
dengan kemarahan yang memuncak,
“Apakah
engkau murtad dari agamamu?”
Maka
dengan penuh yakin dan tegar wanita itu menjawab,
“Tidak,
bahkan aku telah beriman.”
Ibarat
petir yang menyambar dan godam yang menghantam tepat di ulu hatinya, keras dan menyakitkan.
Betapa tidak, seorang wanita yang selama ini menjadi tempat mengadu resah dan
lelahnya saat pulang bepergian kini telah berbeda keyakinan dengannya, isteri
yang ia cintai telah memilih agama Muhammad, agama yang telah membuat hati
istrinya merubah pendiriannya. Dan satu hal yang ia tahu bahwa ia sangat benci
pada Muhammad dan agama yang dia bawa.
Setelah
kejadian itu Malik tidak lantas menceraikan istrinya, tapi ia berusaha mengajak
kembali wanita yang ia cintai untuk kembali pada ajaran menyembah berhala, dan
istrinya, tetap saja teguh pendirian beragama pada agama yang dibawa Muhammad
saw.
“Duhai
wanita berparas cantik, apa kau ingin berpisah denganku dan lebih memilih agama
Muhammad yang terkutuk itu, bagaimana dengan buah hati kita, apa kau tidak
memikirkan itu istriku”
Bujuk Malik pada
istrinya suatu hari.
“Kau hanya tidak
siap menerima kenyataan suamiku, jika kau benar-benar mencintaiku maka masuklah
agama yang kuyakini saat ini, dan anak kita, aku sendiri yang akan mengurusnya,
karena aku yang lebih berhak atas perwaliannya”.
Dengan sangat geram,
saat itu juga Malik meninggalkan istrinya pergi ke Syiria.
“Suatu saat kau akan
menyesal atas pilihanmu, Ummu Sulaim”
Gertaknya sambil
berlalu meninggalkan rumah.
Dengan tenang,
istrinya menjawab
“aku tidak akan
pernah menyesal telah memilih Allah dan Rasulnya, dan aku lebih menyesal jika
aku memilihmu”.
Keyakinan memiliki
kekuatan besar dibandingkan dengan apapun. Bahkan cinta sekalipun.
Maka setelah
kepergian suaminya, Ummu sulaim menjadi seorang janda. Ia sendirian mengurus
dan mengajak anaknya Anas masuk islam, dan anaknya mentaati semua perintah
ibunya.
***
Jingga langit di
ufuk timur madinah, sepi yang menyerang, itulah yang dirasa oleh perempuan
berwajah cantik yang hanya hidup berdua dengan anaknya.
Ketiadaan seorang
ayah untuk anaknya, membuatnya khawatir, menimbulkan kecemasan bagaimana bila
anakku ini tidak bisa menjadi seorang yang diharapkan, tidak bisa menjadi
seseorang yang kuat, satu ide terbersit di benaknya, tapi entahlah buah hati
kecilnya mau atau tidak dengan idenya yang tiba-tiba ini.
Ummu sulaim
memanggil anaknya, dengan penuh kasih sayang ia merangkul anaknya dan berkata
“Tidak ada cara lain
untuk mendidik dan mengajarkan islam padamu selain kuserahkan kau pada yang
telah membawa ajaran islam, apa kau keberatan anakku?;”
“Aku hanya ingin kau
mengabdi untuk baginda, dan menambah ilmumu pada beliu, anakku”
Anas kecil menjawab
dengan riang tanpa merasa takut
“Aku mau umi,
menjadi pelayan baginda rasul”.
Seorang anak kecil
yang dengan tulus tanpa berharap apapun mau menyerahkan dirinya untuk melayani
seseorang yang belum ia kenal sebelumnya, tidak ada kekuatan dan paksaan
apapun, hanya atas nama cinta. Tidak ada ketakutan apapun.
Hari itu juga ummu
sulaim membawa anas kehadapan Rasulullah
“Duhai Nabi Allah,
aku serahkan anakku menjadi pelayanmu, do’akanlah dia dan jadikanlah dia
orang-orang yang dekat dengamu kelak di syurga”
Lalu baginda Rasul
mendo’akan anas agar ditambahkan ilmu dan hartanya, sehingga kelak anas menjadi
seorang yang banyak meriwayatkan hadis dari rasul dan menjadi saudagar kaya.
Do’a seseorang yang
pasti dikabulkan.
Maka ketika itu anas
telah sah menjadi seseorang yang melayani rasulullah, dan ummu sulaim hanya
tinggal sendirian di rumahnya yang beratapkan pelepah kurma kering.
Tidak ada kesedihan
sedikitpun dalam dirinya, suami yang ia cintai meninggalkannya dan anaknya
tidak lagi bersamanya, maukah seorang ibu, seorang wanita yang siap hidup
sendiri seperti itu, jika bukan karena keimanan kepada allah dan rasulnya, maka
ia tak akan mampu hidup sendiri.
Ia justru bahagia
karena anaknya bisa berada disamping rasulullah setiap saat, bisa menjadi
pengikut rasul yang setia. Bisa melayani utusan allah yang mulia. Betapa
dirinya pun ingin bisa melayani Rasulullah.
***
Di madinah, ada
seorang laki-laki yang sangat tampan, bernama Zaid bin Sahal Al
Aswadadalah. Orang-orang biasa memanggilnya dengan sebutan Abu Thalhah dia juga pemimpin
kaumnya. Dia termasuk golongan yang belum masuk islam, walaupun sudah banyak
orang yang mendapat pengaruh ajaran Mush’ab bin umair .
Lelaki tampan yang
masih lajang itu rupa-rupanya sedang dirundung resah, diliputi kegalauan, yang
beberapa hari ini menyerangnya. Antara perasaan bahagia dan takut ia mencoba
menerjemahkannya menjadi satu ide gila yang suatu saat akan ia tunaikan.
Setiap berjumpa dan
bertemu mata dengannya, maka aura matanya tak bisa lagi membohongi hati yang
ditutupi rasa penuh kebahagiaan itu, sepertinya baru kali itulah abu thalhah
merasakan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia rasakan. Dalam lelap tidurnya
ia bergumam dalam mimpi
يا من سرق قلبي مني
يا من غير لي حياتي
يا من احببته من كل قلبي
يا
من قادني الى الخيال
Duhai
yang telah mencuri hatiku
Duhai yang telah
merubah hidupku
Duhai yang aku
cintai melebihi dari setiap relung hatiku
Duhai yang telah
menuntunku kedunia khayalanku
حبيبي..
Kekasihku
أهديتك قلبي وروحي
وبين ظلوعي اسكنتك
ورسمت معك احلامي
و وعــــــودي
تواعدنا..
Telah kuberikan ruhku dan
hatiku kepadamu
Telah ketempatkan
dirimu dalam relungku
Telah kugambar
dirimu bersama dengan mimpiku
Ketika jiwa kita menyatu dalam bentuk yang lain, maka
hanya jelmaan bentuk itulah yang nyata dalam alam pikiran kita. Maka ibarat
kopi dan susu, abu thalhah sedang membuat kopi tapi masih mencari dimana susu.
Semua orang di madinah tahu bahwa pemuda tampan itu sedang
jatuh cinta pada janda cantik yang mempunyai seorang anak. Tiada peduli orang
berkata apa, karena cinta tak pernah sampai pada tingkat rasional yang paling
nyata, dia hanya berada paling bawah dan sulit dijamah.
***
Cinta. Sesuatu hal
yang tak terdefinisikan dan sulit dibahasakan.
Kota yang bercahaya
itu kini bertambah terang cahayanya, tidak ada lampu mahal yang menerangi,
tidak ada lilin atau bahkan lampion mewah, tidak ada, semua itu belum ada pada
saat itu. Tapi kebahagiaan hati, keceriaan dan terangnya rasa yang melingkupi
bisa menerangi seisi kota.
Seperti kata penyair
:
Hatiku tertambat
dengan sebuah mutiara di rumah rabbahi
Sampai bulan purnama
pun tunduk karena kecantikannya
Ia memiliki
kecantikan gadis-gadis romawi
Jika aku bangga dengan
ketampananku, maka justru kebanggaan itu memeluknya
Ketika aku mengetuk
pintu rumahnya karena cintaku
Ketika aku datang
maka ada yang menyalakan bara api
Para penduduk
bersegera menuju kepadaku dan berteriak
Ia pencuri yang
harus dibunuh atau ditawan
Bayanganmu dimataku,
namamu di mulutku
Dirimu di hatiku,
lantas bagaimana mungkin kamu hilang?;
Yang lain mengatakan
“aku tak ada”
Maka sungguh aku tak
percaya.
“Aku bertambah cinta ketika ia menolak”
Cintaku pada
perempuan itu datang sebelum aku mengenal cinta
Ia datang pada
hatiku yang kosong lalu menetaplah ia di dalamnya…….
Lihatlah rambut
diatas pelipisnya
Seperti semut yang
berbaris
Mengapa mereka
mengingkari rona merah di kedua pipinya
Tapi tak mengingkari
mawar di dahan
Jika rambut di
pipinya adalah aib
Maka bulu mata
adalah juga cacat……….
Abu Talhah tahu
bahwa Rumaisha mempunyai sifat yang mengagumkan. Integritas, kesetiaan, dan
keberaniannya, semuanya sangat menarik Abu Talhah. Dan dia ingin menikahinya.
Lalu ia mengirimkan lamaran pada ummu sulaim.
Ummu sulaim menjawab
lamaran abu talhah dengan mengatakan
“Demi
Allah, orang seperti anda tidak pantas untuk ditolak, hanya saja engkau adalah
orang kafir sedangkan aku adalah seorang muslimah sehingga tidak halal untuk
menikah denganmu. Jika kamu mau masuk Islam, maka itulah mahar bagiku dan kau
tidak meminta yang selain dari itu.”
Sungguh
ungkapan tesebut mampu menyentuh perasaan yang paling dalam dan mengisi hati
Abu Thalhah, sungguh Ummu Sulaim telah bercokol di hatinya secara sempurrna,
dia bukanlah seorang wanita yang suka bermain-main dan takluk dengan
rayuan-rayuan kemewahan, sesungguhnya dia adalah wanita cerdas,
dan apakah dia akan mendapatkan yang lebih baik darinya untuk diperistri,
atau ibu bagi anak-anaknya?”
Tanpa
terasa lisan Abu Thahah mengulang-ulang, “Aku berada di atas apa yang kamu
yakini, aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang hak kecuali Allah dan aku
bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
Ummu Sulaim lalu menoleh
kepada putranya Anas dan beliau berkata dengan suka cita karena hidayah Allah
yang diberikan kepada Abu Thalhah melalui tangannya, “Wahai Anas nikahkanlah
aku dengan Abu Thalhah.” Kemudian beliau pun dinikahkan, dengan keIslaman Abu Talhah
sebagai maharnya.
Oleh karena itu, Tsabit meiwayatkan hadis dari Anas:
“Aku belum pernah
mendengar seorang wanita yang paling mulia dari Ummu Sulaim karena maharnya
adalah Islam.” (Sunan Nasa’i VI/114).
Ummu Sulaim hidup bersama
Abu Talhah dengan kehidupan suami istri yang diisi dengan nilai-nilai Islam
yang menaungi bagi kehidupan suami istri, dengan kehidupan yang tenang dan
penuh kebahagiaan.
Ummu Sulaim adalah profil
seorang istri yang menunaikan hak-hak suami istri dengan sebaik-baiknya,
sebagaimana juga contoh terbaik sebagai seorang ibu, seorang pendidik yang
utama dan orang da’iyah.
Begitulah Abu Thalhah mulai
memasuki madrasah imaniyah melalui istrinya yang utama, yakni Ummu Sulaim.
sehingga, pada gilirannya beliau minum dari mata air nubuwwah hingga menjadi
setara dalam hal kemuliaan dengan Ummu Sulaim.



0 komentar:
Posting Komentar