Jumat, 20 Februari 2015

Kisah Cinta Rumaisha



Siang itu di langit madinah, awan putih dan langit biru tiba-tiba berubah menjadi kelam dan geram, tidak ada tanda-tanda hujan atau badai akan datang, karena hujan dan badai memang sangat jarang terjadi di kota yang bercahaya itu, tapi kelamnya langit bukan karena tanda hujan akan turun melainkan karena sebuah kemarahan besar dari seorang lelaki yang baru saja kembali dari perjalanan panjang.
“Dimana wanita yang melahirkan dan menyusui anas?”
Teriak seorang lelaki di depan rumahnya, sambil berusaha masuk dan mencari-cari wanita yang ia maksud.
Dari serambi rumah muncul seorang wanita cantik dengan wajah keibuan menjawab dengan tegas
“Aku disini wahai ayah anas, ada gerangan apa kau mencariku?”
 Lelaki tadi berkata dengan kemarahan yang memuncak,
“Apakah engkau murtad dari agamamu?”
Maka dengan penuh yakin dan tegar wanita itu menjawab,
“Tidak, bahkan aku telah beriman.”
Ibarat petir yang menyambar dan godam yang menghantam tepat di ulu hatinya, keras dan menyakitkan. Betapa tidak, seorang wanita yang selama ini menjadi tempat mengadu resah dan lelahnya saat pulang bepergian kini telah berbeda keyakinan dengannya, isteri yang ia cintai telah memilih agama Muhammad, agama yang telah membuat hati istrinya merubah pendiriannya. Dan satu hal yang ia tahu bahwa ia sangat benci pada Muhammad dan agama yang dia bawa.
Setelah kejadian itu Malik tidak lantas menceraikan istrinya, tapi ia berusaha mengajak kembali wanita yang ia cintai untuk kembali pada ajaran menyembah berhala, dan istrinya, tetap saja teguh pendirian beragama pada agama yang dibawa Muhammad saw.
“Duhai wanita berparas cantik, apa kau ingin berpisah denganku dan lebih memilih agama Muhammad yang terkutuk itu, bagaimana dengan buah hati kita, apa kau tidak memikirkan itu istriku”
Bujuk Malik pada istrinya suatu hari.
“Kau hanya tidak siap menerima kenyataan suamiku, jika kau benar-benar mencintaiku maka masuklah agama yang kuyakini saat ini, dan anak kita, aku sendiri yang akan mengurusnya, karena aku yang lebih berhak atas perwaliannya”. 
Dengan sangat geram, saat itu juga Malik meninggalkan istrinya pergi ke Syiria.
“Suatu saat kau akan menyesal atas pilihanmu, Ummu Sulaim”
Gertaknya sambil berlalu meninggalkan rumah.
Dengan tenang, istrinya menjawab
“aku tidak akan pernah menyesal telah memilih Allah dan Rasulnya, dan aku lebih menyesal jika aku memilihmu”.
Keyakinan memiliki kekuatan besar dibandingkan dengan apapun. Bahkan cinta sekalipun.
Maka setelah kepergian suaminya, Ummu sulaim menjadi seorang janda. Ia sendirian mengurus dan mengajak anaknya Anas masuk islam, dan anaknya mentaati semua perintah ibunya.
***
Jingga langit di ufuk timur madinah, sepi yang menyerang, itulah yang dirasa oleh perempuan berwajah cantik yang hanya hidup berdua dengan anaknya.
Ketiadaan seorang ayah untuk anaknya, membuatnya khawatir, menimbulkan kecemasan bagaimana bila anakku ini tidak bisa menjadi seorang yang diharapkan, tidak bisa menjadi seseorang yang kuat, satu ide terbersit di benaknya, tapi entahlah buah hati kecilnya mau atau tidak dengan idenya yang tiba-tiba ini.
Ummu sulaim memanggil anaknya, dengan penuh kasih sayang ia merangkul anaknya dan berkata
“Tidak ada cara lain untuk mendidik dan mengajarkan islam padamu selain kuserahkan kau pada yang telah membawa ajaran islam, apa kau keberatan anakku?;”
“Aku hanya ingin kau mengabdi untuk baginda, dan menambah ilmumu pada beliu, anakku”
Anas kecil menjawab dengan riang tanpa merasa takut
“Aku mau umi, menjadi pelayan baginda rasul”.
Seorang anak kecil yang dengan tulus tanpa berharap apapun mau menyerahkan dirinya untuk melayani seseorang yang belum ia kenal sebelumnya, tidak ada kekuatan dan paksaan apapun, hanya atas nama cinta. Tidak ada ketakutan apapun.
Hari itu juga ummu sulaim membawa anas kehadapan Rasulullah
“Duhai Nabi Allah, aku serahkan anakku menjadi pelayanmu, do’akanlah dia dan jadikanlah dia orang-orang yang dekat dengamu kelak di syurga”
Lalu baginda Rasul mendo’akan anas agar ditambahkan ilmu dan hartanya, sehingga kelak anas menjadi seorang yang banyak meriwayatkan hadis dari rasul dan menjadi saudagar kaya.
Do’a seseorang yang pasti dikabulkan.
Maka ketika itu anas telah sah menjadi seseorang yang melayani rasulullah, dan ummu sulaim hanya tinggal sendirian di rumahnya yang beratapkan pelepah kurma kering.
Tidak ada kesedihan sedikitpun dalam dirinya, suami yang ia cintai meninggalkannya dan anaknya tidak lagi bersamanya, maukah seorang ibu, seorang wanita yang siap hidup sendiri seperti itu, jika bukan karena keimanan kepada allah dan rasulnya, maka ia tak akan mampu hidup sendiri.
Ia justru bahagia karena anaknya bisa berada disamping rasulullah setiap saat, bisa menjadi pengikut rasul yang setia. Bisa melayani utusan allah yang mulia. Betapa dirinya pun ingin bisa melayani Rasulullah.
***
Di madinah, ada seorang laki-laki yang sangat tampan, bernama  Zaid bin Sahal Al Aswadadalah. Orang-orang biasa memanggilnya dengan sebutan Abu Thalhah dia juga pemimpin kaumnya. Dia termasuk golongan yang belum masuk islam, walaupun sudah banyak orang yang mendapat pengaruh ajaran Mush’ab bin umair .
Lelaki tampan yang masih lajang itu rupa-rupanya sedang dirundung resah, diliputi kegalauan, yang beberapa hari ini menyerangnya. Antara perasaan bahagia dan takut ia mencoba menerjemahkannya menjadi satu ide gila yang suatu saat akan ia tunaikan.
Setiap berjumpa dan bertemu mata dengannya, maka aura matanya tak bisa lagi membohongi hati yang ditutupi rasa penuh kebahagiaan itu, sepertinya baru kali itulah abu thalhah merasakan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia rasakan. Dalam lelap tidurnya ia bergumam dalam mimpi
يا من سرق قلبي مني
يا من غير لي حياتي
يا من احببته من كل قلبي
يا من قادني الى الخيال
Duhai yang telah mencuri hatiku
Duhai yang telah merubah hidupku
Duhai yang aku cintai melebihi dari setiap relung hatiku
Duhai yang telah menuntunku kedunia khayalanku

حبيبي..
Kekasihku
أهديتك قلبي وروحي
وبين ظلوعي اسكنتك
ورسمت معك احلامي
و وعــــــودي
تواعدنا..
Telah kuberikan ruhku dan hatiku kepadamu
Telah ketempatkan dirimu dalam relungku
Telah kugambar dirimu bersama dengan mimpiku


Ketika jiwa kita menyatu dalam bentuk yang lain, maka hanya jelmaan bentuk itulah yang nyata dalam alam pikiran kita. Maka ibarat kopi dan susu, abu thalhah sedang membuat kopi tapi masih mencari dimana susu.
Semua orang di madinah tahu bahwa pemuda tampan itu sedang jatuh cinta pada janda cantik yang mempunyai seorang anak. Tiada peduli orang berkata apa, karena cinta tak pernah sampai pada tingkat rasional yang paling nyata, dia hanya berada paling bawah dan sulit dijamah.
***
Cinta. Sesuatu hal yang tak terdefinisikan dan sulit dibahasakan.
Kota yang bercahaya itu kini bertambah terang cahayanya, tidak ada lampu mahal yang menerangi, tidak ada lilin atau bahkan lampion mewah, tidak ada, semua itu belum ada pada saat itu. Tapi kebahagiaan hati, keceriaan dan terangnya rasa yang melingkupi bisa menerangi seisi kota.
Seperti kata penyair :
Hatiku tertambat dengan sebuah mutiara di rumah rabbahi
Sampai bulan purnama pun tunduk karena kecantikannya
Ia memiliki kecantikan gadis-gadis romawi
Jika aku bangga dengan ketampananku, maka justru kebanggaan itu memeluknya
Ketika aku mengetuk pintu rumahnya karena cintaku
Ketika aku datang maka ada yang menyalakan bara api
Para penduduk bersegera menuju kepadaku dan berteriak
Ia pencuri yang harus dibunuh atau ditawan

Bayanganmu dimataku, namamu di mulutku
Dirimu di hatiku, lantas bagaimana mungkin kamu hilang?;
Yang lain mengatakan “aku tak ada”
Maka sungguh aku tak percaya.
 “Aku bertambah cinta ketika ia menolak”
Cintaku pada perempuan itu datang sebelum aku mengenal cinta
Ia datang pada hatiku yang kosong lalu menetaplah ia di dalamnya…….
Lihatlah rambut diatas pelipisnya
Seperti semut yang berbaris
Mengapa mereka mengingkari rona merah di kedua pipinya
Tapi tak mengingkari mawar di dahan
Jika rambut di pipinya adalah aib
Maka bulu mata adalah juga cacat……….
Abu Talhah tahu bahwa Rumaisha mempunyai sifat yang mengagumkan. Integritas, kesetiaan, dan keberaniannya, semuanya sangat menarik Abu Talhah. Dan dia ingin menikahinya. Lalu ia mengirimkan lamaran pada ummu sulaim.
Ummu sulaim menjawab lamaran abu talhah dengan mengatakan
“Demi Allah, orang seperti anda tidak pantas untuk ditolak, hanya saja engkau adalah orang kafir sedangkan aku adalah seorang muslimah sehingga tidak halal untuk menikah denganmu. Jika kamu mau masuk Islam, maka itulah mahar bagiku dan kau tidak meminta yang selain dari itu.”
Sungguh ungkapan tesebut mampu menyentuh perasaan yang paling dalam dan mengisi hati Abu Thalhah, sungguh Ummu Sulaim telah bercokol di hatinya secara sempurrna, dia bukanlah seorang wanita yang suka bermain-main dan takluk dengan rayuan-rayuan kemewahan, sesungguhnya dia adalah wanita cerdas, dan apakah dia akan mendapatkan yang lebih baik darinya untuk diperistri, atau ibu bagi anak-anaknya?”
Tanpa terasa lisan Abu Thahah mengulang-ulang, “Aku berada di atas apa yang kamu yakini, aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang hak kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
Ummu Sulaim lalu menoleh kepada putranya Anas dan beliau berkata dengan suka cita karena hidayah Allah yang diberikan kepada Abu Thalhah melalui tangannya, “Wahai Anas nikahkanlah aku dengan Abu Thalhah.” Kemudian beliau pun dinikahkan, dengan keIslaman Abu Talhah sebagai maharnya. Oleh karena itu, Tsabit meiwayatkan hadis dari Anas:
Aku belum pernah mendengar seorang wanita yang paling mulia dari Ummu Sulaim karena maharnya adalah Islam.” (Sunan Nasa’i VI/114).
Ummu Sulaim hidup bersama Abu Talhah dengan kehidupan suami istri yang diisi dengan nilai-nilai Islam yang menaungi bagi kehidupan suami istri, dengan kehidupan yang tenang dan penuh kebahagiaan.
Ummu Sulaim adalah profil seorang istri yang menunaikan hak-hak suami istri dengan sebaik-baiknya, sebagaimana juga contoh terbaik sebagai seorang ibu, seorang pendidik yang utama dan orang da’iyah.
Begitulah Abu Thalhah mulai memasuki madrasah imaniyah melalui istrinya yang utama, yakni Ummu Sulaim. sehingga, pada gilirannya beliau minum dari mata air nubuwwah hingga menjadi setara dalam hal kemuliaan dengan Ummu Sulaim.


0 komentar:

Posting Komentar

 
;