Rabu, 18 Februari 2015

Meski hidup tanpa warna….


“Apa kau yakin bisa melakukannya sendiri?”
Pertanyaan yang berulang-ulang kudengar dari kerongkongannya yang sudah kering.
“Sudahlah, kau tak usah ragukan aku.. aku pasti bisa sendiri, sudah pergilah tak  apa aku ditinggal disini”
Jawabku kesal.
Masih dengan kekhawatiran yang membuatku tak suka dia meyakinkanku bahwa dia siap menemaniku tapi aku ingin sendiri, tak ingin ditemani siapapun…
“Baiklah, terserah kau, kau memang keras kepala kalau dibujuk, nanti kalau terjadi apa-apa hubungi aku atau hubungi siapapun yang kau kenal”
Kalimat terakhir yang dia ucapkan sebelum akhirnya dia mengalah juga padaku dan pergi membiarkan aku sendiri, itu lebih baik menurutku.
Aku tak ingin merepotkan oranglain terus menerus, aku tak boleh tergantung pada oranglain meskipun pada keluarga sendiri, karena kelak masa depanku hanya aku yang menjalaninya bukan bersama keluargaku… maafkan aku, aku memang keras kepala tapi semua ini agar aku bisa lebih baik lagi.
Setiap orang mengkhawatirkanku, dimanja padahal jelas aku tak suka diperlakukan bak anak bayi yang baru belajar jalan, tengkurap.. ah aku tak suka orang-orang memperlakukanku seperti itu, untuk itu aku ingin menjauh dari mereka, hidup mandiri dan bisa melakukan segala hal sendiri.
Kata ibu, dengar lewat obrolan dibalik pintu kamar ibu akan menyuruh aku masuk asrama atau apalah namanya agar aku belajar hidup mandiri, tapi aku tak suka diatur aku menolak keras masuk asrama atau apalah namanya.
“Permisi mba, tujuan anda mau kemana? trans jogja jalur 3B akan segera berangkat”
Tanya seorang laki-laki yang kuperkirakan umurnya sekitar 25-26 itu bisa ditebak dari suaranya yang mulai dewasa, mungkin laki-laki itu mas penjaga trans jogja.
“Ehh, mau ke terminal giwangan mas”
Jawabku tanpa pikir panjang karena tak tahu tujuan mau kemana.
“Oh kalau begitu silahkan masuk mba, busnya akan berangkat”
Ucap mas penjaga bus dengan ramah.
“Iya terimakasih mas”
Jawabku sambil perlahan memasuki jalur 3B trans jogja.
***
“Bu, aku khawatir dia pergi sendirian, dia tak biasa pergi tanpa kita bu”
Keluh seorang perempuan muda yang sejak tadi merasa cemas dengan kepergian adik semata wayangnya. 
“Sudahlah ningrum, ibu yakin dia pasti bisa mengurus dirinya sendiri, dia sudah besar jadi, keputusannya sudah cukup baik ingin belajar hidup mandiri diluar sana tanpa kita, tanpa harus tergantung pada kita, nanti dia harus menikah dan juga mengurus suaminya, dia juga harus mengurus anak-anaknya, jadi kau tak usah khawatir, dia pasti bisa”
Jawab seorang wanita paruh baya yang di panggil ibu.
Ningrum hanya bisa menarik nafas panjang, sambil berbisik dalam hatinya sendiri “laki-laki mana juga yang mau pada adikku yang seperti itu keadannya”, oh Tuhan…
Dibalik ketenangan si ibu, dalam hatinya tak bisa dipungkiri muncul kekhawatiran yang amat pada anaknya, kekhawatiran yang lebih dari siapapun, tapi dia tepis pelan-pelan mau tidak mau ini harus dilakukan, dia ingat pesan suaminya agar anak bungsunya itu jangan dimanjakan terlalu, takut dia tergantung pada keluarga terutama pada ibunya.
Tapi tetap saja mas, aku khawatir akan terjadi apa-apa pada anak kita bisiknya dalam hati.
***
Sampai terminal giwangan, aku masih bingung mau kemana aku tak punya banyak relasi seperti orang kebanyakan, keluargaku juga ada di jogja semua meskipun kami bukan warga asli jogja tapi pindahan dari Jakarta, tapi semua keluargaku sudah menetap di jogja semua.. lalu harus kemana kaki ini kubawa, dengan bekal yang tak seberapa.
“Mba, mau kemana?”
Tanya seorang laki-laki yang bisa diperkirakan umurnya sudah lanjut usia, suaranya tidak lagi tegas tapi halus dan pelan
“gak tahu pak, saya juga bingung tapi saya ingin mencari pekerjaan mungkin bapak punya saran”
Jawabku tanpa malu sambil menjelaskan kebingunganku.
“Wah cari pekerjaan yah, gimana yah dengan kondisi mba seperti ini apa bisa bekerja dengan maksimal, maaf saja mba, saya ada pekerjaan kebetulan saya punya toko di solo dan sedang butuh karyawan wanita tapi mba”…
Jawab bapak dengan ragu.
“Pak, tolonglah saya bisa lakukan itu, saya yakin bisa maksimal bekerja apalagi hanya jaga toko, bapak tak usah hiraukan keadaan saya, saya mohon pak, saya sedang butuh”
Pintaku sambil memaksa.  
“Baiklah kalau begitu, ayo kita naik bus ke solo saya tadi ke jogja karena mau belanja batik jogja ini kebetulan memang mau pulang”
Ungkap bapak mulai yakin padaku.
Terimakasih Tuhan, baru sampai terminal pertolonganMu sudah datang, aku tak tahu harus kemana lagi, semoga ini jalan terbaik dan pekerjaan yang terbaik, semoga aku bisa maksimal bisikku dalam hati.
***
“Bu, kenapa dia tak juga mengabari kita padahal sudah hampir satu minggu dia pergi dari rumah, jangan-jangan dia kenapa-kenapa bu, ibu kita harus cari dia bu, bu.. kenapa diam saja”
Ungkap ningrum sambil terisak.
“Ningrum, sudahlah biarkan saja.. ibu yakin dia sudah mendapat tempat layak untuk tinggal, ibu yakin sekarang dia sedang belajar untuk beradaptasi dengan lingkungannya, dia sedang belajar menghafal arah dan letak jalan yang ia tinggali sekarang, dia juga sedang belajar mengenali orang-orang yang disekitarnya, ibu bisa rasakan itu nak”
“ibu, itu hanya perasaan ibu kalau ternyata sebaliknya gimana, dia berjalan dan terjatuh atau mungkin nyasar dan akhirnya ada orang jahat terus dia diperkosa dan dibunuh, lalu mayatnya dibuang dan…..
“Ningrum cukup, kamu keterlaluan mendo’akan adikmu seperti itu”bentak ibu.
“Aku bukan mendo’akan bu, aku khawatir padanya, aku takut terjadi sesuatu padanya, zaman sekarang jarang ada orang baik apalagi dengan kondisi dia seperti itu mudah ditipu orang bu”
Jelas ningrum sambil menahan tangisnya.
 “Baiklah, beberapa hari lagi kita tunggu kalau masih tak ada kabar kita akan cari dia, sekarang sudah berhentikan tangismu sudah punya suami masih cengeng”ucap ibu kesal.
***
“Silahkan masuk mba, ini rumah saya dan tokonya itu sebelah sana, eh maaf mba ya nanti saja saya jelaskan dan ajak mba ke tokonya”
Ucap bapak yang bernama hartono.
“tidak apa-apa pak, saya pasti akan menghafalkan letak toko dari rumah bapak, saya pasti cepat menghafalnya”
Jawabku berusaha meyakinkan pak hartono.
“Iya mba, semoga saja ayo mari masuk mba, saya bantu”
Ajak pak hartono.
“tidak usah pak, saya bisa sendiri bapak tidak usah manjakan saya biarkan saya melakukannya sendiri”
Jawabku dengan sedikit kesal.
Lagi-lagi dimanapun dikasihani orang.
“Siapa wanita itu pak”
Tanya seorang wanita dari dalam rumah, mungkin itu isterinya pak hartono pikirku.
“Dia yang mau kerja di toko kita bu, tadi bapak ketemu di terminal sepertinya anaknya baik, tak apalah bu”jelas pak hartono pada istrinya.
“Yang mau kerja di toko pak, tidak tidak ibu tak mau dengan kondisi dia seperti itu ibu khawatir dia tidak becus bekerja pak”
Jelas istrinya menolak.
“bu, beri dia satu kesempatan saja kalau dia memang kurang bisa kita bisa ganti orang baru lagi, ya bu kasihan dia bu”
Bujuk pak hartono pada istrinya.
Aku sudah punya firasat sejak tadi kalau istrinya akan menolak kedatanganku ternyata terbukti.
“Tapi pak, dia buta pak, nanti malah Cuma nyusahin karyawan yang lain, mau jalan kemana malah dituntun orang, pokoknya ibu tidak mau, masih banyak orang sehat dan bisa melihat kenapa harus cari orang cacat, dia itu cocoknya tinggal di asrama orang cacat pak bukan kerja di toko kita”
Jelas istri pak hartono kesal.
Aku harus pergi dari rumah ini daripada karena aku pak hartono bertengkar dengan istrinya.
“Pak, ibu benar saya buta jadi mungkin saya tidak bisa kerja disini, terimakasih pak, saya pamit saya akan cari tempat lain yang bisa menerima orang buta seperti saya”
Pak hartono dan istrinya hanya diam tak menjawab.
Harus kubawa kemana lagi kaki ini, dan manusia mana yang mau menerima wanita tunanetra sepertiku, ibu benar seharusnya aku tinggal di asrama orang cacat, tapi aku tak mau aku ingin belajar sendiri…
Maafkan aku bu,….











0 komentar:

Posting Komentar

 
;