“Apa
kau yakin bisa melakukannya sendiri?”
Pertanyaan
yang berulang-ulang kudengar dari kerongkongannya yang sudah kering.
“Sudahlah,
kau tak usah ragukan aku.. aku pasti bisa sendiri, sudah pergilah tak apa aku ditinggal disini”
Jawabku
kesal.
Masih
dengan kekhawatiran yang membuatku tak suka dia meyakinkanku bahwa dia siap
menemaniku tapi aku ingin sendiri, tak ingin ditemani siapapun…
“Baiklah,
terserah kau, kau memang keras kepala kalau dibujuk, nanti kalau terjadi
apa-apa hubungi aku atau hubungi siapapun yang kau kenal”
Kalimat
terakhir yang dia ucapkan sebelum akhirnya dia mengalah juga padaku dan pergi
membiarkan aku sendiri, itu lebih baik menurutku.
Aku
tak ingin merepotkan oranglain terus menerus, aku tak boleh tergantung pada
oranglain meskipun pada keluarga sendiri, karena kelak masa depanku hanya aku
yang menjalaninya bukan bersama keluargaku… maafkan aku, aku memang keras
kepala tapi semua ini agar aku bisa lebih baik lagi.
Setiap
orang mengkhawatirkanku, dimanja padahal jelas aku tak suka diperlakukan bak
anak bayi yang baru belajar jalan, tengkurap.. ah aku tak suka orang-orang
memperlakukanku seperti itu, untuk itu aku ingin menjauh dari mereka, hidup
mandiri dan bisa melakukan segala hal sendiri.
Kata
ibu, dengar lewat obrolan dibalik pintu kamar ibu akan menyuruh aku masuk
asrama atau apalah namanya agar aku belajar hidup mandiri, tapi aku tak suka
diatur aku menolak keras masuk asrama atau apalah namanya.
“Permisi
mba, tujuan anda mau kemana? trans jogja jalur 3B akan segera berangkat”
Tanya
seorang laki-laki yang kuperkirakan umurnya sekitar 25-26 itu bisa ditebak dari
suaranya yang mulai dewasa, mungkin laki-laki itu mas penjaga trans jogja.
“Ehh,
mau ke terminal giwangan mas”
Jawabku
tanpa pikir panjang karena tak tahu tujuan mau kemana.
“Oh
kalau begitu silahkan masuk mba, busnya akan berangkat”
Ucap
mas penjaga bus dengan ramah.
“Iya
terimakasih mas”
Jawabku
sambil perlahan memasuki jalur 3B trans jogja.
***
“Bu,
aku khawatir dia pergi sendirian, dia tak biasa pergi tanpa kita bu”
Keluh
seorang perempuan muda yang sejak tadi merasa cemas dengan kepergian adik
semata wayangnya.
“Sudahlah
ningrum, ibu yakin dia pasti bisa mengurus dirinya sendiri, dia sudah besar
jadi, keputusannya sudah cukup baik ingin belajar hidup mandiri diluar sana
tanpa kita, tanpa harus tergantung pada kita, nanti dia harus menikah dan juga
mengurus suaminya, dia juga harus mengurus anak-anaknya, jadi kau tak usah
khawatir, dia pasti bisa”
Jawab
seorang wanita paruh baya yang di panggil ibu.
Ningrum
hanya bisa menarik nafas panjang, sambil berbisik dalam hatinya sendiri
“laki-laki mana juga yang mau pada adikku yang seperti itu keadannya”, oh Tuhan…
Dibalik
ketenangan si ibu, dalam hatinya tak bisa dipungkiri muncul kekhawatiran yang
amat pada anaknya, kekhawatiran yang lebih dari siapapun, tapi dia tepis
pelan-pelan mau tidak mau ini harus dilakukan, dia ingat pesan suaminya agar
anak bungsunya itu jangan dimanjakan terlalu, takut dia tergantung pada
keluarga terutama pada ibunya.
Tapi
tetap saja mas, aku khawatir akan terjadi apa-apa pada anak kita bisiknya dalam
hati.
***
Sampai
terminal giwangan, aku masih bingung mau kemana aku tak punya banyak relasi
seperti orang kebanyakan, keluargaku juga ada di jogja semua meskipun kami
bukan warga asli jogja tapi pindahan dari Jakarta, tapi semua keluargaku sudah
menetap di jogja semua.. lalu harus kemana kaki ini kubawa, dengan bekal yang
tak seberapa.
“Mba,
mau kemana?”
Tanya
seorang laki-laki yang bisa diperkirakan umurnya sudah lanjut usia, suaranya
tidak lagi tegas tapi halus dan pelan
“gak
tahu pak, saya juga bingung tapi saya ingin mencari pekerjaan mungkin bapak
punya saran”
Jawabku
tanpa malu sambil menjelaskan kebingunganku.
“Wah
cari pekerjaan yah, gimana yah dengan kondisi mba seperti ini apa bisa bekerja
dengan maksimal, maaf saja mba, saya ada pekerjaan kebetulan saya punya toko di
solo dan sedang butuh karyawan wanita tapi mba”…
Jawab
bapak dengan ragu.
“Pak,
tolonglah saya bisa lakukan itu, saya yakin bisa maksimal bekerja apalagi hanya
jaga toko, bapak tak usah hiraukan keadaan saya, saya mohon pak, saya sedang
butuh”
Pintaku
sambil memaksa.
“Baiklah
kalau begitu, ayo kita naik bus ke solo saya tadi ke jogja karena mau belanja
batik jogja ini kebetulan memang mau pulang”
Ungkap
bapak mulai yakin padaku.
Terimakasih
Tuhan, baru sampai terminal pertolonganMu sudah datang, aku tak tahu harus
kemana lagi, semoga ini jalan terbaik dan pekerjaan yang terbaik, semoga aku
bisa maksimal bisikku dalam hati.
***
“Bu,
kenapa dia tak juga mengabari kita padahal sudah hampir satu minggu dia pergi
dari rumah, jangan-jangan dia kenapa-kenapa bu, ibu kita harus cari dia bu,
bu.. kenapa diam saja”
Ungkap
ningrum sambil terisak.
“Ningrum,
sudahlah biarkan saja.. ibu yakin dia sudah mendapat tempat layak untuk
tinggal, ibu yakin sekarang dia sedang belajar untuk beradaptasi dengan lingkungannya,
dia sedang belajar menghafal arah dan letak jalan yang ia tinggali sekarang,
dia juga sedang belajar mengenali orang-orang yang disekitarnya, ibu bisa
rasakan itu nak”
“ibu,
itu hanya perasaan ibu kalau ternyata sebaliknya gimana, dia berjalan dan
terjatuh atau mungkin nyasar dan akhirnya ada orang jahat terus dia diperkosa
dan dibunuh, lalu mayatnya dibuang dan…..
“Ningrum
cukup, kamu keterlaluan mendo’akan adikmu seperti itu”bentak ibu.
“Aku
bukan mendo’akan bu, aku khawatir padanya, aku takut terjadi sesuatu padanya,
zaman sekarang jarang ada orang baik apalagi dengan kondisi dia seperti itu
mudah ditipu orang bu”
Jelas
ningrum sambil menahan tangisnya.
“Baiklah, beberapa hari lagi kita tunggu kalau
masih tak ada kabar kita akan cari dia, sekarang sudah berhentikan tangismu
sudah punya suami masih cengeng”ucap ibu kesal.
***
“Silahkan
masuk mba, ini rumah saya dan tokonya itu sebelah sana, eh maaf mba ya nanti
saja saya jelaskan dan ajak mba ke tokonya”
Ucap
bapak yang bernama hartono.
“tidak
apa-apa pak, saya pasti akan menghafalkan letak toko dari rumah bapak, saya
pasti cepat menghafalnya”
Jawabku
berusaha meyakinkan pak hartono.
“Iya
mba, semoga saja ayo mari masuk mba, saya bantu”
Ajak
pak hartono.
“tidak
usah pak, saya bisa sendiri bapak tidak usah manjakan saya biarkan saya
melakukannya sendiri”
Jawabku
dengan sedikit kesal.
Lagi-lagi
dimanapun dikasihani orang.
“Siapa
wanita itu pak”
Tanya
seorang wanita dari dalam rumah, mungkin itu isterinya pak hartono pikirku.
“Dia
yang mau kerja di toko kita bu, tadi bapak ketemu di terminal sepertinya
anaknya baik, tak apalah bu”jelas pak hartono pada istrinya.
“Yang
mau kerja di toko pak, tidak tidak ibu tak mau dengan kondisi dia seperti itu
ibu khawatir dia tidak becus bekerja pak”
Jelas
istrinya menolak.
“bu,
beri dia satu kesempatan saja kalau dia memang kurang bisa kita bisa ganti
orang baru lagi, ya bu kasihan dia bu”
Bujuk
pak hartono pada istrinya.
Aku
sudah punya firasat sejak tadi kalau istrinya akan menolak kedatanganku ternyata
terbukti.
“Tapi
pak, dia buta pak, nanti malah Cuma nyusahin karyawan yang lain, mau jalan
kemana malah dituntun orang, pokoknya ibu tidak mau, masih banyak orang sehat
dan bisa melihat kenapa harus cari orang cacat, dia itu cocoknya tinggal di
asrama orang cacat pak bukan kerja di toko kita”
Jelas
istri pak hartono kesal.
Aku
harus pergi dari rumah ini daripada karena aku pak hartono bertengkar dengan
istrinya.
“Pak,
ibu benar saya buta jadi mungkin saya tidak bisa kerja disini, terimakasih pak,
saya pamit saya akan cari tempat lain yang bisa menerima orang buta seperti
saya”
Pak
hartono dan istrinya hanya diam tak menjawab.
Harus
kubawa kemana lagi kaki ini, dan manusia mana yang mau menerima wanita
tunanetra sepertiku, ibu benar seharusnya aku tinggal di asrama orang cacat,
tapi aku tak mau aku ingin belajar sendiri…
Maafkan
aku bu,….


0 komentar:
Posting Komentar