Senin, 23 Februari 2015 0 komentar

Bersamamu, aku ingin.... ?



Merah, kamu kalo udah nikah pengen ngapain aja ma pasanganmu?
Gadis yang dipanggil merah tersipu malu, sebab entah kenapa pertanyaan itu persis situasinya dengan pikirannya yang sedang melayang-layang. Melayang-layang mengingat seseorang.
Eh, aku? Kamu dululah, aku belum tahu.
Si gadis merah membalikan pertanyaan, ia mencoba beralasan belum tahu apa saja yang ingin ia lakukan, padahal...
Gadis biru yang bertanya pertama kali mendadak wajahnya bersemu merah, matanya ia palingkan ke sekeliling luar jendela, malam itu diluar amat dingin, sebab hujan deras yang tiba-tiba, gigil merasuki kami.
Merah, kamu tahu, kalau aku sudah menikah kelak aku ingin sekali pergi ke toko buku bersama, mencari-cari buku kesukaanku dan dia, kami tertawa bersama di depan rak buku, aku juga ingin naik kereta berdua, iyah bagiku perjalanan menyenangkan yang hanya dilewati berdua adalah naik kereta, malam yang lelah aku bersandar di pundaknya ia pun bersandar padaku, kami saling bersandar dan memeluk hangat, rasanya kereta api Cuma milik kami berdua, tak peduli pada siapa dihadapan atau disamping kami.
Si gadis biru tersenyum bahagia, ia kembali melanjutkan cerita.
Belum berhenti sampai disitu, aku juga ingin duduk di pinggir danau berdua, kami membawa bekal makan siang sambil menunggu itu kami mewarnai gambar bersama, itu mungkin terdengar kekanakan merah, tapi aku menyukainya, kami berebut pinsil warna, aku mengambil biru ternyata dia pun ingin mengambil biru, tangan kami bersentuhan hangat, lalu mata kami saling bertemu dan tertawa malu, hari itu kami menjadi pasangan paling bahagia.
Yeah, aku bisa membayangkannya biru, memang terdengar sangat romantis, bagaimana denganmu hijau?
Tanyaku mengalihkan pada si gadis hijau yang sejak tadi sibuk membaca buku, tapi aku tahu ia pun mendengar pembicaraan kami. Sebab pun aku takut pertanyaan itu akan beralih padaku.
Gadis hijau malu-malu tersenyum, matanya ia alihkan pada kami yang duduk dibelakangnya.
Kok aku kena juga si, aku kan lagi baca.
Si gadis hijau mengelak malu.
Hei, kami tahu loh sejak tadi kamu nguping pembicaraan kami, ayolah cerita saja gak usah malu.
Si gadis biru memaksa.
Aku sederhana saja, aku hanya ingin menghabiskan banyak waktu bersamanya, itu saja.
Jawab gadis hijau sambil masih sibuk membaca buku. Aku tahu itu pasti jawaban sekenanya saja, ia pasti malu juga untuk menjawabnya.
Hey merah, sekarang giliranmu, kamu ingin seperti apa? Gak usah mengelak ya, aku sadar dari tadi kamu berusaha menghindar.
Gadis biru menaikkan alisnya, ia masih tetap usaha memaksa si merah untuk menjawab.
Aku tidak tahu, justru aku sedang membayangkan akan seperti apa sosok yang akan menemani masa depanku.
Jawab si merah tersipu.
Dan hening.




Jumat, 20 Februari 2015 0 komentar

Kisah Cinta Rumaisha



Siang itu di langit madinah, awan putih dan langit biru tiba-tiba berubah menjadi kelam dan geram, tidak ada tanda-tanda hujan atau badai akan datang, karena hujan dan badai memang sangat jarang terjadi di kota yang bercahaya itu, tapi kelamnya langit bukan karena tanda hujan akan turun melainkan karena sebuah kemarahan besar dari seorang lelaki yang baru saja kembali dari perjalanan panjang.
“Dimana wanita yang melahirkan dan menyusui anas?”
Teriak seorang lelaki di depan rumahnya, sambil berusaha masuk dan mencari-cari wanita yang ia maksud.
Dari serambi rumah muncul seorang wanita cantik dengan wajah keibuan menjawab dengan tegas
“Aku disini wahai ayah anas, ada gerangan apa kau mencariku?”
 Lelaki tadi berkata dengan kemarahan yang memuncak,
“Apakah engkau murtad dari agamamu?”
Maka dengan penuh yakin dan tegar wanita itu menjawab,
“Tidak, bahkan aku telah beriman.”
Ibarat petir yang menyambar dan godam yang menghantam tepat di ulu hatinya, keras dan menyakitkan. Betapa tidak, seorang wanita yang selama ini menjadi tempat mengadu resah dan lelahnya saat pulang bepergian kini telah berbeda keyakinan dengannya, isteri yang ia cintai telah memilih agama Muhammad, agama yang telah membuat hati istrinya merubah pendiriannya. Dan satu hal yang ia tahu bahwa ia sangat benci pada Muhammad dan agama yang dia bawa.
Setelah kejadian itu Malik tidak lantas menceraikan istrinya, tapi ia berusaha mengajak kembali wanita yang ia cintai untuk kembali pada ajaran menyembah berhala, dan istrinya, tetap saja teguh pendirian beragama pada agama yang dibawa Muhammad saw.
“Duhai wanita berparas cantik, apa kau ingin berpisah denganku dan lebih memilih agama Muhammad yang terkutuk itu, bagaimana dengan buah hati kita, apa kau tidak memikirkan itu istriku”
Bujuk Malik pada istrinya suatu hari.
“Kau hanya tidak siap menerima kenyataan suamiku, jika kau benar-benar mencintaiku maka masuklah agama yang kuyakini saat ini, dan anak kita, aku sendiri yang akan mengurusnya, karena aku yang lebih berhak atas perwaliannya”. 
Dengan sangat geram, saat itu juga Malik meninggalkan istrinya pergi ke Syiria.
“Suatu saat kau akan menyesal atas pilihanmu, Ummu Sulaim”
Gertaknya sambil berlalu meninggalkan rumah.
Dengan tenang, istrinya menjawab
“aku tidak akan pernah menyesal telah memilih Allah dan Rasulnya, dan aku lebih menyesal jika aku memilihmu”.
Keyakinan memiliki kekuatan besar dibandingkan dengan apapun. Bahkan cinta sekalipun.
Maka setelah kepergian suaminya, Ummu sulaim menjadi seorang janda. Ia sendirian mengurus dan mengajak anaknya Anas masuk islam, dan anaknya mentaati semua perintah ibunya.
***
Jingga langit di ufuk timur madinah, sepi yang menyerang, itulah yang dirasa oleh perempuan berwajah cantik yang hanya hidup berdua dengan anaknya.
Ketiadaan seorang ayah untuk anaknya, membuatnya khawatir, menimbulkan kecemasan bagaimana bila anakku ini tidak bisa menjadi seorang yang diharapkan, tidak bisa menjadi seseorang yang kuat, satu ide terbersit di benaknya, tapi entahlah buah hati kecilnya mau atau tidak dengan idenya yang tiba-tiba ini.
Ummu sulaim memanggil anaknya, dengan penuh kasih sayang ia merangkul anaknya dan berkata
“Tidak ada cara lain untuk mendidik dan mengajarkan islam padamu selain kuserahkan kau pada yang telah membawa ajaran islam, apa kau keberatan anakku?;”
“Aku hanya ingin kau mengabdi untuk baginda, dan menambah ilmumu pada beliu, anakku”
Anas kecil menjawab dengan riang tanpa merasa takut
“Aku mau umi, menjadi pelayan baginda rasul”.
Seorang anak kecil yang dengan tulus tanpa berharap apapun mau menyerahkan dirinya untuk melayani seseorang yang belum ia kenal sebelumnya, tidak ada kekuatan dan paksaan apapun, hanya atas nama cinta. Tidak ada ketakutan apapun.
Hari itu juga ummu sulaim membawa anas kehadapan Rasulullah
“Duhai Nabi Allah, aku serahkan anakku menjadi pelayanmu, do’akanlah dia dan jadikanlah dia orang-orang yang dekat dengamu kelak di syurga”
Lalu baginda Rasul mendo’akan anas agar ditambahkan ilmu dan hartanya, sehingga kelak anas menjadi seorang yang banyak meriwayatkan hadis dari rasul dan menjadi saudagar kaya.
Do’a seseorang yang pasti dikabulkan.
Maka ketika itu anas telah sah menjadi seseorang yang melayani rasulullah, dan ummu sulaim hanya tinggal sendirian di rumahnya yang beratapkan pelepah kurma kering.
Tidak ada kesedihan sedikitpun dalam dirinya, suami yang ia cintai meninggalkannya dan anaknya tidak lagi bersamanya, maukah seorang ibu, seorang wanita yang siap hidup sendiri seperti itu, jika bukan karena keimanan kepada allah dan rasulnya, maka ia tak akan mampu hidup sendiri.
Ia justru bahagia karena anaknya bisa berada disamping rasulullah setiap saat, bisa menjadi pengikut rasul yang setia. Bisa melayani utusan allah yang mulia. Betapa dirinya pun ingin bisa melayani Rasulullah.
***
Di madinah, ada seorang laki-laki yang sangat tampan, bernama  Zaid bin Sahal Al Aswadadalah. Orang-orang biasa memanggilnya dengan sebutan Abu Thalhah dia juga pemimpin kaumnya. Dia termasuk golongan yang belum masuk islam, walaupun sudah banyak orang yang mendapat pengaruh ajaran Mush’ab bin umair .
Lelaki tampan yang masih lajang itu rupa-rupanya sedang dirundung resah, diliputi kegalauan, yang beberapa hari ini menyerangnya. Antara perasaan bahagia dan takut ia mencoba menerjemahkannya menjadi satu ide gila yang suatu saat akan ia tunaikan.
Setiap berjumpa dan bertemu mata dengannya, maka aura matanya tak bisa lagi membohongi hati yang ditutupi rasa penuh kebahagiaan itu, sepertinya baru kali itulah abu thalhah merasakan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia rasakan. Dalam lelap tidurnya ia bergumam dalam mimpi
يا من سرق قلبي مني
يا من غير لي حياتي
يا من احببته من كل قلبي
يا من قادني الى الخيال
Duhai yang telah mencuri hatiku
Duhai yang telah merubah hidupku
Duhai yang aku cintai melebihi dari setiap relung hatiku
Duhai yang telah menuntunku kedunia khayalanku

حبيبي..
Kekasihku
أهديتك قلبي وروحي
وبين ظلوعي اسكنتك
ورسمت معك احلامي
و وعــــــودي
تواعدنا..
Telah kuberikan ruhku dan hatiku kepadamu
Telah ketempatkan dirimu dalam relungku
Telah kugambar dirimu bersama dengan mimpiku


Ketika jiwa kita menyatu dalam bentuk yang lain, maka hanya jelmaan bentuk itulah yang nyata dalam alam pikiran kita. Maka ibarat kopi dan susu, abu thalhah sedang membuat kopi tapi masih mencari dimana susu.
Semua orang di madinah tahu bahwa pemuda tampan itu sedang jatuh cinta pada janda cantik yang mempunyai seorang anak. Tiada peduli orang berkata apa, karena cinta tak pernah sampai pada tingkat rasional yang paling nyata, dia hanya berada paling bawah dan sulit dijamah.
***
Cinta. Sesuatu hal yang tak terdefinisikan dan sulit dibahasakan.
Kota yang bercahaya itu kini bertambah terang cahayanya, tidak ada lampu mahal yang menerangi, tidak ada lilin atau bahkan lampion mewah, tidak ada, semua itu belum ada pada saat itu. Tapi kebahagiaan hati, keceriaan dan terangnya rasa yang melingkupi bisa menerangi seisi kota.
Seperti kata penyair :
Hatiku tertambat dengan sebuah mutiara di rumah rabbahi
Sampai bulan purnama pun tunduk karena kecantikannya
Ia memiliki kecantikan gadis-gadis romawi
Jika aku bangga dengan ketampananku, maka justru kebanggaan itu memeluknya
Ketika aku mengetuk pintu rumahnya karena cintaku
Ketika aku datang maka ada yang menyalakan bara api
Para penduduk bersegera menuju kepadaku dan berteriak
Ia pencuri yang harus dibunuh atau ditawan

Bayanganmu dimataku, namamu di mulutku
Dirimu di hatiku, lantas bagaimana mungkin kamu hilang?;
Yang lain mengatakan “aku tak ada”
Maka sungguh aku tak percaya.
 “Aku bertambah cinta ketika ia menolak”
Cintaku pada perempuan itu datang sebelum aku mengenal cinta
Ia datang pada hatiku yang kosong lalu menetaplah ia di dalamnya…….
Lihatlah rambut diatas pelipisnya
Seperti semut yang berbaris
Mengapa mereka mengingkari rona merah di kedua pipinya
Tapi tak mengingkari mawar di dahan
Jika rambut di pipinya adalah aib
Maka bulu mata adalah juga cacat……….
Abu Talhah tahu bahwa Rumaisha mempunyai sifat yang mengagumkan. Integritas, kesetiaan, dan keberaniannya, semuanya sangat menarik Abu Talhah. Dan dia ingin menikahinya. Lalu ia mengirimkan lamaran pada ummu sulaim.
Ummu sulaim menjawab lamaran abu talhah dengan mengatakan
“Demi Allah, orang seperti anda tidak pantas untuk ditolak, hanya saja engkau adalah orang kafir sedangkan aku adalah seorang muslimah sehingga tidak halal untuk menikah denganmu. Jika kamu mau masuk Islam, maka itulah mahar bagiku dan kau tidak meminta yang selain dari itu.”
Sungguh ungkapan tesebut mampu menyentuh perasaan yang paling dalam dan mengisi hati Abu Thalhah, sungguh Ummu Sulaim telah bercokol di hatinya secara sempurrna, dia bukanlah seorang wanita yang suka bermain-main dan takluk dengan rayuan-rayuan kemewahan, sesungguhnya dia adalah wanita cerdas, dan apakah dia akan mendapatkan yang lebih baik darinya untuk diperistri, atau ibu bagi anak-anaknya?”
Tanpa terasa lisan Abu Thahah mengulang-ulang, “Aku berada di atas apa yang kamu yakini, aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang hak kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
Ummu Sulaim lalu menoleh kepada putranya Anas dan beliau berkata dengan suka cita karena hidayah Allah yang diberikan kepada Abu Thalhah melalui tangannya, “Wahai Anas nikahkanlah aku dengan Abu Thalhah.” Kemudian beliau pun dinikahkan, dengan keIslaman Abu Talhah sebagai maharnya. Oleh karena itu, Tsabit meiwayatkan hadis dari Anas:
Aku belum pernah mendengar seorang wanita yang paling mulia dari Ummu Sulaim karena maharnya adalah Islam.” (Sunan Nasa’i VI/114).
Ummu Sulaim hidup bersama Abu Talhah dengan kehidupan suami istri yang diisi dengan nilai-nilai Islam yang menaungi bagi kehidupan suami istri, dengan kehidupan yang tenang dan penuh kebahagiaan.
Ummu Sulaim adalah profil seorang istri yang menunaikan hak-hak suami istri dengan sebaik-baiknya, sebagaimana juga contoh terbaik sebagai seorang ibu, seorang pendidik yang utama dan orang da’iyah.
Begitulah Abu Thalhah mulai memasuki madrasah imaniyah melalui istrinya yang utama, yakni Ummu Sulaim. sehingga, pada gilirannya beliau minum dari mata air nubuwwah hingga menjadi setara dalam hal kemuliaan dengan Ummu Sulaim.


Kamis, 19 Februari 2015 0 komentar

Guys, Yuk nulis !!!



Hai guys, kalian tahu JK Rowling kan? Seorang penulis hebat yang sudah berfantasi dengan imajinasinya, “Harry Potter” siapa coba yang gak tahu, aq yakin semua orang tahu, minimal tahu walaupun gak baca novelnya atau nonton filmnya, selain harry potter novel paling menarik dari JK adalah “The cuckoo’s calling” novel tentang detektif yang menemukan solusi untuk permasalahan-permasalahan kriminal dan pembunuhan. Pertanyaannnya bukan soal novel, tapi kenapa semua orang bisa kenal dan tahu JK Rowling?
Jawabannya karena dia berkarya, karena dia menulis.
Nah kalian juga tahu aoyama ghoso kan? Itu loh yang ngarang komik detektif conan, masa gak tahu sih komik yang cukup melegenda, hahaha, dan aq termasuk penggemarnya. Kenapa juga kita kenal dan tahu aoyama, padahal siapa si dia, mungkin kalau dia gak ngarang conan sampe sekarang mana tahu kita sama dia, nah pertanyaannya sama seperti diawal, kenapa tahu aoyama? Jawabannya karena dia berkarya dan menulis.
Guys, kalian pernah gak si duduk merenung gitu sambil dengerin musik santai atau sambil rebahan, terus tiba-tiba terbersit dalam pikiran, ya ampun udah selama ini aq hidup tapi apa coba karya yang udah aq buat?
Okelah misalnya profesor, mungkin karyanya dia adalah penemuan hebat semacam newton, galileo, ibnu sina, terus arsitektur okelah karya dia mendesign rumah, bangunan,  jalan, terus dokter karyanya ya pasien yang jadi sembuh dari sakitnya. Itu kalau profesi kita seperti mereka, nah kalau kita justru gak punya pekerjaan, atau masih mahasiswa, masih pelajar?
Menulislah, karena menulis adalah pekerjaan semua orang. Tidak peduli pangkat, jabatan, agama, suku, menulis adalah pekerjaan yang semua orang bisa lakukan. Aq yakin penulis-penulis hebat yang udah punya karya hebat itu bukan semata-mata dikasih bakat sama Tuhan, tapi karena ada kemauan, ada keinginan, dan ada usaha.
Cita-citaku sejak kecil bukan jadi penulis, tapi pengen jadi wartawan, pernah juga pengen jadi psikolog, eh sekarang malah jadi guru, gak masalah, karena aq suka banget nulis sejak dulu jadi pekerjaan apapun yang aq lakoni sekarang gak jadi hambatan untuk aq menulis.
Yah aq memang belum sehebat para penulis keren itu, walaupun suatu saat memang pengen, tapi itu bukan tujuan yang paling utama, tujuan aq menulis ya karena aq suka, karena aq ingin semua orang tahu dan kenal siapa aq dan bisa memberi manfaat dan pengaruh yang baik untuk orang-orang yang membaca tulisanku. Itu saja jawabannya.
Dengan menulis kita bisa menghasilkan karya, buruk atau baik hasilnya itu bukan jadi alasan, karena setiap orang punya frame yang berbeda dalam menilai, jadi gak usah takut kalau ada yang gak suka tulisan kita, toh dari 1000 orang yang ada, mungkin saja ada 1 orang yang menyukainya, setidaknya kita bisa memberi manfaat untuk satu orang ini.
Jadi guys, ayo nulis, nulis apa aja, gak harus muluk-muluk pengen nerbitkan buku walaupun diterbitkan lebih baik tapi alangkah baiknya juga kita memulainya dengan nulis di catatan fb, nulis di twitter, nulis di blog, nulis di laptop, nulis di buku harian juga gpp. Tulislah dan berikan manfaat untuk orang sekitar kita dengan tulisan kita.

“Khairunnas Anfauhum Linnas”
Artinya, sebaik2 manusia adalah yang memberi manfaat untuk orang lain.


Pakpayoon, Thailand. 
Rabu, 18 Februari 2015 0 komentar

Meski hidup tanpa warna….


“Apa kau yakin bisa melakukannya sendiri?”
Pertanyaan yang berulang-ulang kudengar dari kerongkongannya yang sudah kering.
“Sudahlah, kau tak usah ragukan aku.. aku pasti bisa sendiri, sudah pergilah tak  apa aku ditinggal disini”
Jawabku kesal.
Masih dengan kekhawatiran yang membuatku tak suka dia meyakinkanku bahwa dia siap menemaniku tapi aku ingin sendiri, tak ingin ditemani siapapun…
“Baiklah, terserah kau, kau memang keras kepala kalau dibujuk, nanti kalau terjadi apa-apa hubungi aku atau hubungi siapapun yang kau kenal”
Kalimat terakhir yang dia ucapkan sebelum akhirnya dia mengalah juga padaku dan pergi membiarkan aku sendiri, itu lebih baik menurutku.
Aku tak ingin merepotkan oranglain terus menerus, aku tak boleh tergantung pada oranglain meskipun pada keluarga sendiri, karena kelak masa depanku hanya aku yang menjalaninya bukan bersama keluargaku… maafkan aku, aku memang keras kepala tapi semua ini agar aku bisa lebih baik lagi.
Setiap orang mengkhawatirkanku, dimanja padahal jelas aku tak suka diperlakukan bak anak bayi yang baru belajar jalan, tengkurap.. ah aku tak suka orang-orang memperlakukanku seperti itu, untuk itu aku ingin menjauh dari mereka, hidup mandiri dan bisa melakukan segala hal sendiri.
Kata ibu, dengar lewat obrolan dibalik pintu kamar ibu akan menyuruh aku masuk asrama atau apalah namanya agar aku belajar hidup mandiri, tapi aku tak suka diatur aku menolak keras masuk asrama atau apalah namanya.
“Permisi mba, tujuan anda mau kemana? trans jogja jalur 3B akan segera berangkat”
Tanya seorang laki-laki yang kuperkirakan umurnya sekitar 25-26 itu bisa ditebak dari suaranya yang mulai dewasa, mungkin laki-laki itu mas penjaga trans jogja.
“Ehh, mau ke terminal giwangan mas”
Jawabku tanpa pikir panjang karena tak tahu tujuan mau kemana.
“Oh kalau begitu silahkan masuk mba, busnya akan berangkat”
Ucap mas penjaga bus dengan ramah.
“Iya terimakasih mas”
Jawabku sambil perlahan memasuki jalur 3B trans jogja.
***
“Bu, aku khawatir dia pergi sendirian, dia tak biasa pergi tanpa kita bu”
Keluh seorang perempuan muda yang sejak tadi merasa cemas dengan kepergian adik semata wayangnya. 
“Sudahlah ningrum, ibu yakin dia pasti bisa mengurus dirinya sendiri, dia sudah besar jadi, keputusannya sudah cukup baik ingin belajar hidup mandiri diluar sana tanpa kita, tanpa harus tergantung pada kita, nanti dia harus menikah dan juga mengurus suaminya, dia juga harus mengurus anak-anaknya, jadi kau tak usah khawatir, dia pasti bisa”
Jawab seorang wanita paruh baya yang di panggil ibu.
Ningrum hanya bisa menarik nafas panjang, sambil berbisik dalam hatinya sendiri “laki-laki mana juga yang mau pada adikku yang seperti itu keadannya”, oh Tuhan…
Dibalik ketenangan si ibu, dalam hatinya tak bisa dipungkiri muncul kekhawatiran yang amat pada anaknya, kekhawatiran yang lebih dari siapapun, tapi dia tepis pelan-pelan mau tidak mau ini harus dilakukan, dia ingat pesan suaminya agar anak bungsunya itu jangan dimanjakan terlalu, takut dia tergantung pada keluarga terutama pada ibunya.
Tapi tetap saja mas, aku khawatir akan terjadi apa-apa pada anak kita bisiknya dalam hati.
***
Sampai terminal giwangan, aku masih bingung mau kemana aku tak punya banyak relasi seperti orang kebanyakan, keluargaku juga ada di jogja semua meskipun kami bukan warga asli jogja tapi pindahan dari Jakarta, tapi semua keluargaku sudah menetap di jogja semua.. lalu harus kemana kaki ini kubawa, dengan bekal yang tak seberapa.
“Mba, mau kemana?”
Tanya seorang laki-laki yang bisa diperkirakan umurnya sudah lanjut usia, suaranya tidak lagi tegas tapi halus dan pelan
“gak tahu pak, saya juga bingung tapi saya ingin mencari pekerjaan mungkin bapak punya saran”
Jawabku tanpa malu sambil menjelaskan kebingunganku.
“Wah cari pekerjaan yah, gimana yah dengan kondisi mba seperti ini apa bisa bekerja dengan maksimal, maaf saja mba, saya ada pekerjaan kebetulan saya punya toko di solo dan sedang butuh karyawan wanita tapi mba”…
Jawab bapak dengan ragu.
“Pak, tolonglah saya bisa lakukan itu, saya yakin bisa maksimal bekerja apalagi hanya jaga toko, bapak tak usah hiraukan keadaan saya, saya mohon pak, saya sedang butuh”
Pintaku sambil memaksa.  
“Baiklah kalau begitu, ayo kita naik bus ke solo saya tadi ke jogja karena mau belanja batik jogja ini kebetulan memang mau pulang”
Ungkap bapak mulai yakin padaku.
Terimakasih Tuhan, baru sampai terminal pertolonganMu sudah datang, aku tak tahu harus kemana lagi, semoga ini jalan terbaik dan pekerjaan yang terbaik, semoga aku bisa maksimal bisikku dalam hati.
***
“Bu, kenapa dia tak juga mengabari kita padahal sudah hampir satu minggu dia pergi dari rumah, jangan-jangan dia kenapa-kenapa bu, ibu kita harus cari dia bu, bu.. kenapa diam saja”
Ungkap ningrum sambil terisak.
“Ningrum, sudahlah biarkan saja.. ibu yakin dia sudah mendapat tempat layak untuk tinggal, ibu yakin sekarang dia sedang belajar untuk beradaptasi dengan lingkungannya, dia sedang belajar menghafal arah dan letak jalan yang ia tinggali sekarang, dia juga sedang belajar mengenali orang-orang yang disekitarnya, ibu bisa rasakan itu nak”
“ibu, itu hanya perasaan ibu kalau ternyata sebaliknya gimana, dia berjalan dan terjatuh atau mungkin nyasar dan akhirnya ada orang jahat terus dia diperkosa dan dibunuh, lalu mayatnya dibuang dan…..
“Ningrum cukup, kamu keterlaluan mendo’akan adikmu seperti itu”bentak ibu.
“Aku bukan mendo’akan bu, aku khawatir padanya, aku takut terjadi sesuatu padanya, zaman sekarang jarang ada orang baik apalagi dengan kondisi dia seperti itu mudah ditipu orang bu”
Jelas ningrum sambil menahan tangisnya.
 “Baiklah, beberapa hari lagi kita tunggu kalau masih tak ada kabar kita akan cari dia, sekarang sudah berhentikan tangismu sudah punya suami masih cengeng”ucap ibu kesal.
***
“Silahkan masuk mba, ini rumah saya dan tokonya itu sebelah sana, eh maaf mba ya nanti saja saya jelaskan dan ajak mba ke tokonya”
Ucap bapak yang bernama hartono.
“tidak apa-apa pak, saya pasti akan menghafalkan letak toko dari rumah bapak, saya pasti cepat menghafalnya”
Jawabku berusaha meyakinkan pak hartono.
“Iya mba, semoga saja ayo mari masuk mba, saya bantu”
Ajak pak hartono.
“tidak usah pak, saya bisa sendiri bapak tidak usah manjakan saya biarkan saya melakukannya sendiri”
Jawabku dengan sedikit kesal.
Lagi-lagi dimanapun dikasihani orang.
“Siapa wanita itu pak”
Tanya seorang wanita dari dalam rumah, mungkin itu isterinya pak hartono pikirku.
“Dia yang mau kerja di toko kita bu, tadi bapak ketemu di terminal sepertinya anaknya baik, tak apalah bu”jelas pak hartono pada istrinya.
“Yang mau kerja di toko pak, tidak tidak ibu tak mau dengan kondisi dia seperti itu ibu khawatir dia tidak becus bekerja pak”
Jelas istrinya menolak.
“bu, beri dia satu kesempatan saja kalau dia memang kurang bisa kita bisa ganti orang baru lagi, ya bu kasihan dia bu”
Bujuk pak hartono pada istrinya.
Aku sudah punya firasat sejak tadi kalau istrinya akan menolak kedatanganku ternyata terbukti.
“Tapi pak, dia buta pak, nanti malah Cuma nyusahin karyawan yang lain, mau jalan kemana malah dituntun orang, pokoknya ibu tidak mau, masih banyak orang sehat dan bisa melihat kenapa harus cari orang cacat, dia itu cocoknya tinggal di asrama orang cacat pak bukan kerja di toko kita”
Jelas istri pak hartono kesal.
Aku harus pergi dari rumah ini daripada karena aku pak hartono bertengkar dengan istrinya.
“Pak, ibu benar saya buta jadi mungkin saya tidak bisa kerja disini, terimakasih pak, saya pamit saya akan cari tempat lain yang bisa menerima orang buta seperti saya”
Pak hartono dan istrinya hanya diam tak menjawab.
Harus kubawa kemana lagi kaki ini, dan manusia mana yang mau menerima wanita tunanetra sepertiku, ibu benar seharusnya aku tinggal di asrama orang cacat, tapi aku tak mau aku ingin belajar sendiri…
Maafkan aku bu,….











0 komentar

Pulang Part I


Kota yang tak pernah terlupakan
Petra, apa kau tahu yang disebut dengan kota yang tak akan terlupakan?
Sore itu, aku bersama sahabat baikku petra menikmati gorengan di angkringan dekat kost, hujan yang sempat menyapa sejak pagi tadi akhirnya berakhir sore ini, dan menikmati sore yang indah adalah duduk-duduk di warung makan, sambil menikmati gorengan, makanan khas di kota manapun, dan selalu jadi favorit.
Em, kota yang bersejarah pastinya.
Petra yang masih mengunyah gorengan menjawab ala kadarnya.
Iya, memang kota yang bersejarah, bahkan melebihi kota yang ada di mesir, yunani atau pusat-pusat peradaban dan sejarah dunia.
Mana ada kota yang lebih dari kota yang ada di negeri bersejarah seperti mesir, andalusia dan sebagainya, menurutku sih.
Sambil tersenyum meragukan dengan jawaban sendiri.
Ada petra, kota yang semua orang tak akan pernah bisa melupakannya, dimanapun ia berada, kota itu akan selalu diingatnya. Bagaimana mungkin juga orang akan melupakannya, sementara sejarah hidupnya bermula dari sana.
Pembicaraan sore itu berakhir begitu saja, tanpa jawaban tanpa pertanyaan lanjutan, petra terburu-buru pergi, ada sms mendadak dari teman kostnya yang minta dijemput di bandara, dan aku, dengan sejuta pertanyaan dan kegundahan, kulangkahkan kaki ini pulang ke kost-kostan.
Aku rangga, seorang mahasiswa yang merantau ke kota orang, akhir bulan ini aku akan di wisuda, anggap saja ini berita baik, tapi ada kegelisahan lain yang sedang menimpaku. Selama merantau aku terbiasa hidup di kost, berteman dengan banyak orang dari berbagai daerah, menjadi tahu karakter tiap orang mewakili dari mana dia berasal. Sudah hampir 4 tahun aku berada di perantauan, dan selama 4 tahun itu aku tak pernah pulang.
Setiap kali itu pula, ibu selalu bertanya, kapan pulang nak, dan aku hanya bisa diam lalu kumatikan telepon, lalu beralasan bahwa baterai hpku habis, atau tiba-tiba pulsanya habis, dan alasan-alasan lain yang bisa menyelamatkanku.
Entah kenapa sejak 4 tahun lalu menginjakkan kaki di perantauan, perasaan nyaman itu muncul, keinginan untuk tetap tinggal dan malas untuk kembali itu juga hadir bersamaan, dan keinginan tetap tinggal itulah yang selalu menang. Setiap kali waktu luang dan berlibur, kuisi dengan hal-hal yang belum pernah kulakukan, jalan-jalan ke kota ini, ke kota itu, menikmati matahari tenggelam di kota ini, dan menikmati makanan khas kota itu, semua kulakukan, dan aku melupakan diri, atau lebih tepatnya berpura-pura lupa untuk pulang. Teman-teman kost tiap libur pasti pulang, entah kenapa mereka tak bosan bertemu dengan kampung halamannya, merasai pagi yang sama bertahun-tahun, bagiku itu amat membosankan.
Namun di saat-saat waktu yang tepat untuk kembali, ada sesuatu yang berusaha menghalangi. Saat semua hal sudah kulakukan dan aku ingin kembali, hal lain yang lebih besar menghalangi. Berhari-hari kegundahan ini menyelimuti, tapi aku belum tahu harus memutuskan seperti apa.
Di tengah kegelisahan sore itu, hujan kembali menyapa.
Kupandangi sekitarku, ada sesak yang tertahan, ingatanku tiba-tiba kembali pada saat usiaku sembilan tahun.
12 tahun yang lalu..
Bu, aku main diluar boleh ya?
Pinta seorang anak pada ibunya.
Diluar hujan nak, nanti kamu sakit.
Tapi diluar banyak yang main hujan-hujanan, aku juga mau bu.
Sambil merengek anak itu memohon pada ibunya. Dua detik kemudian, wajah sang ibu sudah melunak, ibu mana yang tahan dengan rayuan anak yang disayanginya.
Dengan gembira anak kecil yang masih lugu itu berlari ke luar rumah, dan diluar teman-teman seusianya sudah menunggunya sejak tadi. Bermain hujan-hujanan akhirnya menjadi rutinitasnya tiap kali hujan deras hadir, hampir tak pernah ia lewatkan.
Ingatan itu menyesakkan sungguh.
Yah, anak kecil yang lugu itu adalah aku, sejuknya kotaku, ramainya anak-anak kecil yang bermain di bawah deras hujan membuat suasana hujan tak lagi mencekam, lihatlah disini, di kota perantauan ini, tak ada satu bocah pun yang kutemukan diluar rumah, bermain hujan-hujanan.
Sejak kecil aku terbiasa tinggal di rumah, saat orang-orang sibuk ingin merubah nasib ke ibukota, aku dan keluargaku masih asik dengan rumah dan kesibukan kami, ayah dan ibu yang seorang guru di sekolah, dan kedua adikku dan aku yang saat itu masih bersekolah. Kami memang bukan keluarga terpandang, tapi ayah dan ibu selalu mengajarkan untuk mementingkan pendidikan, bagaimana sulitnya orang berilmu saat ini.
Satu persatu ingatan tentang rumah kembali hadir, halaman rumah yang penuh tanaman kesukaan ibu, kedua adikku yang selalu bertengkar dan berebut mainan, ayah yang selalu pulang sore, aku teringat semua itu, dan aku yang tiap sore bersama teman-teman bermain bola. Ingatan yang baru kusadari setelah 4 tahun berlalu di kota orang ini, aku baru sadar dengan semua hal yang indah itu..
4 tahun bukan waktu yang sebentar, ibu bilang banyak yang sudah berubah di kota  romantis itu, jalanannya, bangunannya, ibu bilang saat ini kota kami sudah hampir menyerupai ibukota, padatnya transportasi, bangunan yang tinggi bermunculan, kedua adikku sudah masuk SMA, ayah sudah pensiun, dan ibu pun sudah lama berhenti mengajar.
Aku tak bisa membayangkan sudah seperti apa perubahannya, terakhir sejak SMA, dan memutuskan untuk kuliah di perantauan, yang kuingat hari terakhir itu, ibu dan ayah mengantarku ke terminal bus, dan ciuman terakhir ibu sebelum usiaku mencapai kepala dua.
Ternyata kenangan itu tak hilang dari ingatan.
Hujan sore itu perlahan-lahan berubah menjadi gerimis kecil, dan halaman yang menemaniku selama 4 tahun ini mulai tampak di depan mata. Ya, halaman kost yang sudah ketempati selama aku tinggal di kota ini.
Kurebahkan tubuhku sesaat, sebelum waktu sholat maghrib tiba.
Ingatan rumah kembali hadir, seperti kepingan puzzle yang hampir terkumpul, aku ingat bagaimana tiap menjelang maghrib ayah mengajakku ke masjid dekat rumah, ayah bilang sholat berjamaah pahalanya lebih besar dibanding sholat sendirian di rumah, kecuali untuk perempuan. Perempuan boleh saja sholat di rumah. Semenjak itu, kebiasaan sholat maghrib jamaah di masjid menjadi salah satu hal baik yang bisa kubawa ke kota perantauan ini, ya setidaknya aku masih mau jamaah sholat maghrib dan isya, selainnya, lebih nyaman dilakukan di kost.
Suasana sore yang syahdu, langit yang kemerah-merahan, ramainya anak-anak kecil berlomba ke masjid, anak-anak muda yang nongkrong di jalan, ibu-ibu yang berkumpul di serambi masjid sambil menggendong anak bayi mereka yang masih menyusui. Entah kenapa di kotaku, masjid menjadi segala pusat kegiatan, tak hanya untuk yang baik-baik saja seperti sholat, pengajian, tapi juga tempat ibu-ibu berkumpul kala sore sambil berbincang tentang rumah tangga mereka, bergosip artis, dan membicarakan pemerintah yang masih saja tak pernah adil pada rakyat kecil. Biasanya kala sore, ayah udah anteng di depan tv, menonton berita sore, ibu menyiapkan makan malam, kedua adikku bermain diluar rumah, dan aku, bersama langit yang malu, aku berdiskusi sendiri, dengan buku-buku, dengan game, dengan majalah-majalah bola. Mungkin karena itu juga selama kuliah, saat waktu-waktu libur aku malah sibuk traveling dan mengunjungi tempat-tempat baru, itu mungkin sebagai luapan emosi karena selama usia remaja aku selalu tinggal di rumah, tepatnya, tak suka berlama-lama diluar.
Tak ada satupun yang terlupakan, aku masih hafal diluar kepala semua peristiwa itu, bahkan jika diminta menceritakan semua itu, akan kuceritakan detail dengan hal-hal kecil yang bisa kuingat. Bagaimana aku bisa lupa, dengan tempat dengan waktu yang membesarkanku, yang menjadi tempat berdiskusiku, yang menjadi kubangan emosiku, bagaimana mungkin aku bisa lupa dengan semua itu sementara hatiku sepenuhnya masih ada disana.
Selama ini aku asik dengan kepura-puraanku, asik dengan dunia baruku dan mencoba lupa bahwa aku pernah ada di suatu tempat yang menjadi permulaan sejarah hidupku, namun saat ini kepura-puraan itu berbuntut panjang rupanya, tak disangka akan seperti ini akhirnya, aku harus memilih diantara dua hal yang berbeda, aku harus memilih antara dimana hatiku berada, dan pikiranku berada. Kupikir kepura-puraan ini hanya akan kulakukan selama aku kuliah, setelah itu aku berjanji pada diriku, kembali adalah keputusan, bukan lagi pilihan.
2 hari pasca ujian skripsi..
Selamat saudara rangga, anda mendapat penghargaan karena skripsi anda menjadi yang terbaik, setelah ini anda diminta menghadap Prof.Dr.Muhammad Idris.M.Hum.
Berita gembira itu seketika saja, seperti ribuan beban lenyap dalam sekejap, kerja keras dan usahaku selama ini terbayar. Membayangkan wajah ibu dan ayah tersenyum bangga padaku, aku tak bisa berkata-kata. Saat itu juga, aku menghadap profesor yang menjadi salah satu penguji skripsiku, rasa bangga dan penasaran menuntunku ke depan kantor beliau di lantai 3 kampus.
Kuketuk pintu kantornya, seketika beliau mempersilahkanku masuk, seolah sudah tahu yang akan datang ke kantornya hanyalah aku. Memang, beliau ini salah satu guru besar yang cukup disegani di kampus, sedikit mahasiswa yang bisa dekat atau sekedar berbincang sebentar dengan beliau.
“silahkan duduk rangga”
Senyum bangga di wajahnya terpancar, aku bisa merasakannya.
“oh iya prof, terimakasih”
Langsung saja ni, jadi maksud saya memanggil kamu kemari, saya tertarik dengan skripsimu, skripsimu luar biasa bagus dan amat sayang kalau studimu harus berhenti pada level ini saja, saya punya keyakinan kamu bisa melanjutkan penelitianmu ini di thesis.
Senyum bangga beliau, berita yang beliau sampaikan, membuatku merinding.
Nah, tapiiii... senyum bangga itu sedikit ditarik, ada kecemasan menimpa wajah tuanya. Menurut saya, penelitian ini lebih bagus kalau kamu lanjutkan tidak di indonesia, tapi di luar negeri, dan kalau kamu mau, saya akan membantu kamu untuk sampai kesana.
Titik.
Antara kaget, bahagia, semua bercampur, dan tanpa mempertimbangkan apapun, kuanggukan kepala, menyetujui usul profesor tersebut. Ini kesempatan emas batinku, sejak dulu aku memang sangat ingin ke luar negeri, kapan lagi bisa.
Siang itu, aku berlari sepanjang koridor kampus, sampai ke kantin, ke masjid, aku berteriak bahagia di depan teman-temanku, mereka turut bangga daan bahagia setelah tahu aku bisa s2 ke luar negeri.
Sampai di depan parkiran, tiba-tiba aku teringat sesuatu, aku teringat janjiku pada ibu, pada sekolahku, dan rindu akan kota yang kutinggalkan selama 4 tahun ini, mendadak aku menjadi bimbang dan berpikir kembali.
Jika aku ke luar negeri, gimana nasib adik-adikku, ayah dan ibu sudah pensiun dan sudah tua, siapa yang akan membantu mereka mengurus kedua adikku, sementara aku adalah anak pertama, dan aku teringat akan janji juga pada sekolah yang membesarkanku, aku akan disana dan membesarkan sekolah, lalu bagaimana dengan s2 ke luar negeri?
Namaku rangga, aku mahasiswa yang baru saja lulus, sebentar lagi akan wisuda, anggap saja itu kebahagiaan terbesar seorang mahasiswa, tapi disisi lain, aku gundah, aku cemas, aku bimbang, kegelisahan ini membuatku tak bisa tersenyum mendekati hari wisuda.
Kuliah s2 kan tidak selama sarjana, cukup 2 tahun sudah selesai, jadi tidak masalah bukan jika aku meninggalkan lagi kotaku selama 2 tahun lagi.
Bisikan satu muncul. Muncul lagi bisikan yang lain.
Bagaimanapun juga, kamu anak pertama, orangtuamu sudah tua, adik-adikmu butuh bimbinganmu, lanjut kuliah s2 yang dekat-dekat saja, tidak usah sampai ke luar negeri segala.
Sepertinya aku butuh istikharah, meminta yang terbaik pada Allah, manusia hanya bisa berencana, selanjutnya Tuhan yang menentukan.


 
;