Rabu, 18 Februari 2015

Pulang Part I


Kota yang tak pernah terlupakan
Petra, apa kau tahu yang disebut dengan kota yang tak akan terlupakan?
Sore itu, aku bersama sahabat baikku petra menikmati gorengan di angkringan dekat kost, hujan yang sempat menyapa sejak pagi tadi akhirnya berakhir sore ini, dan menikmati sore yang indah adalah duduk-duduk di warung makan, sambil menikmati gorengan, makanan khas di kota manapun, dan selalu jadi favorit.
Em, kota yang bersejarah pastinya.
Petra yang masih mengunyah gorengan menjawab ala kadarnya.
Iya, memang kota yang bersejarah, bahkan melebihi kota yang ada di mesir, yunani atau pusat-pusat peradaban dan sejarah dunia.
Mana ada kota yang lebih dari kota yang ada di negeri bersejarah seperti mesir, andalusia dan sebagainya, menurutku sih.
Sambil tersenyum meragukan dengan jawaban sendiri.
Ada petra, kota yang semua orang tak akan pernah bisa melupakannya, dimanapun ia berada, kota itu akan selalu diingatnya. Bagaimana mungkin juga orang akan melupakannya, sementara sejarah hidupnya bermula dari sana.
Pembicaraan sore itu berakhir begitu saja, tanpa jawaban tanpa pertanyaan lanjutan, petra terburu-buru pergi, ada sms mendadak dari teman kostnya yang minta dijemput di bandara, dan aku, dengan sejuta pertanyaan dan kegundahan, kulangkahkan kaki ini pulang ke kost-kostan.
Aku rangga, seorang mahasiswa yang merantau ke kota orang, akhir bulan ini aku akan di wisuda, anggap saja ini berita baik, tapi ada kegelisahan lain yang sedang menimpaku. Selama merantau aku terbiasa hidup di kost, berteman dengan banyak orang dari berbagai daerah, menjadi tahu karakter tiap orang mewakili dari mana dia berasal. Sudah hampir 4 tahun aku berada di perantauan, dan selama 4 tahun itu aku tak pernah pulang.
Setiap kali itu pula, ibu selalu bertanya, kapan pulang nak, dan aku hanya bisa diam lalu kumatikan telepon, lalu beralasan bahwa baterai hpku habis, atau tiba-tiba pulsanya habis, dan alasan-alasan lain yang bisa menyelamatkanku.
Entah kenapa sejak 4 tahun lalu menginjakkan kaki di perantauan, perasaan nyaman itu muncul, keinginan untuk tetap tinggal dan malas untuk kembali itu juga hadir bersamaan, dan keinginan tetap tinggal itulah yang selalu menang. Setiap kali waktu luang dan berlibur, kuisi dengan hal-hal yang belum pernah kulakukan, jalan-jalan ke kota ini, ke kota itu, menikmati matahari tenggelam di kota ini, dan menikmati makanan khas kota itu, semua kulakukan, dan aku melupakan diri, atau lebih tepatnya berpura-pura lupa untuk pulang. Teman-teman kost tiap libur pasti pulang, entah kenapa mereka tak bosan bertemu dengan kampung halamannya, merasai pagi yang sama bertahun-tahun, bagiku itu amat membosankan.
Namun di saat-saat waktu yang tepat untuk kembali, ada sesuatu yang berusaha menghalangi. Saat semua hal sudah kulakukan dan aku ingin kembali, hal lain yang lebih besar menghalangi. Berhari-hari kegundahan ini menyelimuti, tapi aku belum tahu harus memutuskan seperti apa.
Di tengah kegelisahan sore itu, hujan kembali menyapa.
Kupandangi sekitarku, ada sesak yang tertahan, ingatanku tiba-tiba kembali pada saat usiaku sembilan tahun.
12 tahun yang lalu..
Bu, aku main diluar boleh ya?
Pinta seorang anak pada ibunya.
Diluar hujan nak, nanti kamu sakit.
Tapi diluar banyak yang main hujan-hujanan, aku juga mau bu.
Sambil merengek anak itu memohon pada ibunya. Dua detik kemudian, wajah sang ibu sudah melunak, ibu mana yang tahan dengan rayuan anak yang disayanginya.
Dengan gembira anak kecil yang masih lugu itu berlari ke luar rumah, dan diluar teman-teman seusianya sudah menunggunya sejak tadi. Bermain hujan-hujanan akhirnya menjadi rutinitasnya tiap kali hujan deras hadir, hampir tak pernah ia lewatkan.
Ingatan itu menyesakkan sungguh.
Yah, anak kecil yang lugu itu adalah aku, sejuknya kotaku, ramainya anak-anak kecil yang bermain di bawah deras hujan membuat suasana hujan tak lagi mencekam, lihatlah disini, di kota perantauan ini, tak ada satu bocah pun yang kutemukan diluar rumah, bermain hujan-hujanan.
Sejak kecil aku terbiasa tinggal di rumah, saat orang-orang sibuk ingin merubah nasib ke ibukota, aku dan keluargaku masih asik dengan rumah dan kesibukan kami, ayah dan ibu yang seorang guru di sekolah, dan kedua adikku dan aku yang saat itu masih bersekolah. Kami memang bukan keluarga terpandang, tapi ayah dan ibu selalu mengajarkan untuk mementingkan pendidikan, bagaimana sulitnya orang berilmu saat ini.
Satu persatu ingatan tentang rumah kembali hadir, halaman rumah yang penuh tanaman kesukaan ibu, kedua adikku yang selalu bertengkar dan berebut mainan, ayah yang selalu pulang sore, aku teringat semua itu, dan aku yang tiap sore bersama teman-teman bermain bola. Ingatan yang baru kusadari setelah 4 tahun berlalu di kota orang ini, aku baru sadar dengan semua hal yang indah itu..
4 tahun bukan waktu yang sebentar, ibu bilang banyak yang sudah berubah di kota  romantis itu, jalanannya, bangunannya, ibu bilang saat ini kota kami sudah hampir menyerupai ibukota, padatnya transportasi, bangunan yang tinggi bermunculan, kedua adikku sudah masuk SMA, ayah sudah pensiun, dan ibu pun sudah lama berhenti mengajar.
Aku tak bisa membayangkan sudah seperti apa perubahannya, terakhir sejak SMA, dan memutuskan untuk kuliah di perantauan, yang kuingat hari terakhir itu, ibu dan ayah mengantarku ke terminal bus, dan ciuman terakhir ibu sebelum usiaku mencapai kepala dua.
Ternyata kenangan itu tak hilang dari ingatan.
Hujan sore itu perlahan-lahan berubah menjadi gerimis kecil, dan halaman yang menemaniku selama 4 tahun ini mulai tampak di depan mata. Ya, halaman kost yang sudah ketempati selama aku tinggal di kota ini.
Kurebahkan tubuhku sesaat, sebelum waktu sholat maghrib tiba.
Ingatan rumah kembali hadir, seperti kepingan puzzle yang hampir terkumpul, aku ingat bagaimana tiap menjelang maghrib ayah mengajakku ke masjid dekat rumah, ayah bilang sholat berjamaah pahalanya lebih besar dibanding sholat sendirian di rumah, kecuali untuk perempuan. Perempuan boleh saja sholat di rumah. Semenjak itu, kebiasaan sholat maghrib jamaah di masjid menjadi salah satu hal baik yang bisa kubawa ke kota perantauan ini, ya setidaknya aku masih mau jamaah sholat maghrib dan isya, selainnya, lebih nyaman dilakukan di kost.
Suasana sore yang syahdu, langit yang kemerah-merahan, ramainya anak-anak kecil berlomba ke masjid, anak-anak muda yang nongkrong di jalan, ibu-ibu yang berkumpul di serambi masjid sambil menggendong anak bayi mereka yang masih menyusui. Entah kenapa di kotaku, masjid menjadi segala pusat kegiatan, tak hanya untuk yang baik-baik saja seperti sholat, pengajian, tapi juga tempat ibu-ibu berkumpul kala sore sambil berbincang tentang rumah tangga mereka, bergosip artis, dan membicarakan pemerintah yang masih saja tak pernah adil pada rakyat kecil. Biasanya kala sore, ayah udah anteng di depan tv, menonton berita sore, ibu menyiapkan makan malam, kedua adikku bermain diluar rumah, dan aku, bersama langit yang malu, aku berdiskusi sendiri, dengan buku-buku, dengan game, dengan majalah-majalah bola. Mungkin karena itu juga selama kuliah, saat waktu-waktu libur aku malah sibuk traveling dan mengunjungi tempat-tempat baru, itu mungkin sebagai luapan emosi karena selama usia remaja aku selalu tinggal di rumah, tepatnya, tak suka berlama-lama diluar.
Tak ada satupun yang terlupakan, aku masih hafal diluar kepala semua peristiwa itu, bahkan jika diminta menceritakan semua itu, akan kuceritakan detail dengan hal-hal kecil yang bisa kuingat. Bagaimana aku bisa lupa, dengan tempat dengan waktu yang membesarkanku, yang menjadi tempat berdiskusiku, yang menjadi kubangan emosiku, bagaimana mungkin aku bisa lupa dengan semua itu sementara hatiku sepenuhnya masih ada disana.
Selama ini aku asik dengan kepura-puraanku, asik dengan dunia baruku dan mencoba lupa bahwa aku pernah ada di suatu tempat yang menjadi permulaan sejarah hidupku, namun saat ini kepura-puraan itu berbuntut panjang rupanya, tak disangka akan seperti ini akhirnya, aku harus memilih diantara dua hal yang berbeda, aku harus memilih antara dimana hatiku berada, dan pikiranku berada. Kupikir kepura-puraan ini hanya akan kulakukan selama aku kuliah, setelah itu aku berjanji pada diriku, kembali adalah keputusan, bukan lagi pilihan.
2 hari pasca ujian skripsi..
Selamat saudara rangga, anda mendapat penghargaan karena skripsi anda menjadi yang terbaik, setelah ini anda diminta menghadap Prof.Dr.Muhammad Idris.M.Hum.
Berita gembira itu seketika saja, seperti ribuan beban lenyap dalam sekejap, kerja keras dan usahaku selama ini terbayar. Membayangkan wajah ibu dan ayah tersenyum bangga padaku, aku tak bisa berkata-kata. Saat itu juga, aku menghadap profesor yang menjadi salah satu penguji skripsiku, rasa bangga dan penasaran menuntunku ke depan kantor beliau di lantai 3 kampus.
Kuketuk pintu kantornya, seketika beliau mempersilahkanku masuk, seolah sudah tahu yang akan datang ke kantornya hanyalah aku. Memang, beliau ini salah satu guru besar yang cukup disegani di kampus, sedikit mahasiswa yang bisa dekat atau sekedar berbincang sebentar dengan beliau.
“silahkan duduk rangga”
Senyum bangga di wajahnya terpancar, aku bisa merasakannya.
“oh iya prof, terimakasih”
Langsung saja ni, jadi maksud saya memanggil kamu kemari, saya tertarik dengan skripsimu, skripsimu luar biasa bagus dan amat sayang kalau studimu harus berhenti pada level ini saja, saya punya keyakinan kamu bisa melanjutkan penelitianmu ini di thesis.
Senyum bangga beliau, berita yang beliau sampaikan, membuatku merinding.
Nah, tapiiii... senyum bangga itu sedikit ditarik, ada kecemasan menimpa wajah tuanya. Menurut saya, penelitian ini lebih bagus kalau kamu lanjutkan tidak di indonesia, tapi di luar negeri, dan kalau kamu mau, saya akan membantu kamu untuk sampai kesana.
Titik.
Antara kaget, bahagia, semua bercampur, dan tanpa mempertimbangkan apapun, kuanggukan kepala, menyetujui usul profesor tersebut. Ini kesempatan emas batinku, sejak dulu aku memang sangat ingin ke luar negeri, kapan lagi bisa.
Siang itu, aku berlari sepanjang koridor kampus, sampai ke kantin, ke masjid, aku berteriak bahagia di depan teman-temanku, mereka turut bangga daan bahagia setelah tahu aku bisa s2 ke luar negeri.
Sampai di depan parkiran, tiba-tiba aku teringat sesuatu, aku teringat janjiku pada ibu, pada sekolahku, dan rindu akan kota yang kutinggalkan selama 4 tahun ini, mendadak aku menjadi bimbang dan berpikir kembali.
Jika aku ke luar negeri, gimana nasib adik-adikku, ayah dan ibu sudah pensiun dan sudah tua, siapa yang akan membantu mereka mengurus kedua adikku, sementara aku adalah anak pertama, dan aku teringat akan janji juga pada sekolah yang membesarkanku, aku akan disana dan membesarkan sekolah, lalu bagaimana dengan s2 ke luar negeri?
Namaku rangga, aku mahasiswa yang baru saja lulus, sebentar lagi akan wisuda, anggap saja itu kebahagiaan terbesar seorang mahasiswa, tapi disisi lain, aku gundah, aku cemas, aku bimbang, kegelisahan ini membuatku tak bisa tersenyum mendekati hari wisuda.
Kuliah s2 kan tidak selama sarjana, cukup 2 tahun sudah selesai, jadi tidak masalah bukan jika aku meninggalkan lagi kotaku selama 2 tahun lagi.
Bisikan satu muncul. Muncul lagi bisikan yang lain.
Bagaimanapun juga, kamu anak pertama, orangtuamu sudah tua, adik-adikmu butuh bimbinganmu, lanjut kuliah s2 yang dekat-dekat saja, tidak usah sampai ke luar negeri segala.
Sepertinya aku butuh istikharah, meminta yang terbaik pada Allah, manusia hanya bisa berencana, selanjutnya Tuhan yang menentukan.


0 komentar:

Posting Komentar

 
;