Dan kamu,
dengan luka yang sudah kubalut, dengan sedih yang sudah kuhapus, dengan namamu
yang sudah kulupa, tiba-tiba datang kembali mengetuk pintu yang sudah kukunci.
Aku masih
tetap menguncinya, mengintip malu-malu kamu yang berdiri di luar masih dengan
tangan kosong, seperti dulu. Sejujurnya pintu itu ingin kubuka perlahan-lahan
untuk memastikan kamu masih berdiri disana, dengan tangan kosong, tak membawa
sesuatu yang sejak dulu kuminta.
Aku tidak
membukanya, ia terbuka dengan sendirinya, mungkin kuncinya rusak, mungkin sudah
usang, ketika ketukanmu terlampau keras pintu itu terbuka dengan sendirinya.
Dan kamu,
masih berdiri di depan pintu, dengan wajah yang tak bisa kubaca, entah ingin
masuk ke dalamnya atau mungkin sekedar memastikan bahwa aku menguncinya dengan
benar.
Seperti
dulu, kamu hanya berdiri di depan pintu, pintu sudah terbuka, dan aku menahan
sesak di dalamnya.


0 komentar:
Posting Komentar