Selasa, 12 Mei 2015

Patah


Dan kamu, dengan luka yang sudah kubalut, dengan sedih yang sudah kuhapus, dengan namamu yang sudah kulupa, tiba-tiba datang kembali mengetuk pintu yang sudah kukunci.
Aku masih tetap menguncinya, mengintip malu-malu kamu yang berdiri di luar masih dengan tangan kosong, seperti dulu. Sejujurnya pintu itu ingin kubuka perlahan-lahan untuk memastikan kamu masih berdiri disana, dengan tangan kosong, tak membawa sesuatu yang sejak dulu kuminta.
Aku tidak membukanya, ia terbuka dengan sendirinya, mungkin kuncinya rusak, mungkin sudah usang, ketika ketukanmu terlampau keras pintu itu terbuka dengan sendirinya.
Dan kamu, masih berdiri di depan pintu, dengan wajah yang tak bisa kubaca, entah ingin masuk ke dalamnya atau mungkin sekedar memastikan bahwa aku menguncinya dengan benar.
Seperti dulu, kamu hanya berdiri di depan pintu, pintu sudah terbuka, dan aku menahan sesak di dalamnya.



0 komentar:

Posting Komentar

 
;