Petra,
apa kau tahu yang disebut dengan kota yang tak akan terlupakan?
Sore
itu, aku bersama sahabat baikku petra menikmati gorengan di angkringan dekat
kost, hujan yang sempat menyapa sejak pagi tadi akhirnya berakhir sore ini, dan
menikmati sore yang indah adalah duduk-duduk di warung makan, sambil menikmati
gorengan, makanan khas di kota manapun, dan selalu jadi favorit.
Em, kota
yang bersejarah pastinya. Petra yang masih mengunyah
gorengan menjawab ala kadarnya.
Iya,
memang kota yang bersejarah, bahkan melebihi kota yang ada di mesir, yunani
atau pusat-pusat peradaban dan sejarah dunia. Jawabku.
Mana ada
kota yang lebih dari kota yang ada di negeri bersejarah seperti mesir,
andalusia dan sebagainya, menurutku sih. Sambil
tersenyum meragukan dengan jawaban sendiri.
Ada
petra, kota yang semua orang tak akan pernah bisa melupakannya, dimanapun ia
berada, kota itu akan selalu diingatnya. Bagaimana mungkin juga orang akan
melupakannya, sementara sejarah hidupnya bermula dari sana.
Pembicaraan
sore itu berakhir begitu saja, tanpa jawaban tanpa pertanyaan lanjutan, petra
terburu-buru pergi, ada sms mendadak dari teman kostnya yang minta dijemput di
bandara, dan aku, dengan sejuta pertanyaan dan kegundahan, kulangkahkan kaki
ini pulang ke kost-kostan.
Aku rangga,
seorang mahasiswa yang merantau ke kota orang, akhir bulan ini aku akan di
wisuda, anggap saja ini berita baik, tapi ada kegelisahan lain yang sedang
menimpaku. Selama merantau aku terbiasa hidup di kost, berteman dengan banyak
orang dari berbagai daerah, menjadi tahu karakter tiap orang mewakili dari mana
dia berasal. Sudah hampir 4 tahun aku berada di perantauan, dan selama 4 tahun
itu aku tak pernah pulang. Setiap kali itu pula, ibu selalu bertanya, kapan
pulang nak, dan aku hanya bisa diam lalu kumatikan telepon, lalu beralasan
bahwa baterai hpku habis, atau tiba-tiba pulsanya habis, dan alasan-alasan lain
yang bisa menyelamatkanku.
Entah
kenapa sejak 4 tahun lalu menginjakkan kaki di perantauan, perasaan nyaman itu
muncul, keinginan untuk tetap tinggal dan enggan untuk kembali itu juga hadir
bersamaan, dan keinginan tetap tinggal itulah yang selalu menang. Setiap kali
waktu luang dan berlibur, kuisi dengan hal-hal yang belum pernah kulakukan.
Namun di
saat-saat waktu yang tepat untuk kembali, ada sesuatu yang berusaha
menghalangi. Saat semua hal sudah kulakukan dan aku ingin kembali, hal lain
yang lebih besar menghalangi. Berhari-hari kegundahan ini menyelimuti, tapi aku
belum tahu harus memutuskan seperti apa. Di tengah kegelisahan sore itu, hujan
kembali menyapa. Kupandangi sekitarku, ada sesak yang tertahan, ingatanku
tiba-tiba kembali pada saat usiaku sembilan tahun.
12 tahun
yang lalu..
Bu, aku
main diluar boleh ya? Pinta seorang anak pada
ibunya.
Diluar
hujan nak, nanti kamu sakit. Tapi diluar banyak yang main hujan-hujanan, aku
juga mau bu.
Sambil
merengek anak itu memohon pada ibunya. Dua detik kemudian, wajah sang ibu sudah
melunak, ibu mana yang tahan dengan rayuan anak yang disayanginya.
Dengan
gembira anak kecil yang masih lugu itu berlari ke luar rumah, dan diluar
teman-teman seusianya sudah menunggunya sejak tadi. Bermain hujan-hujanan
akhirnya menjadi rutinitasnya tiap kali hujan deras hadir, hampir tak pernah ia
lewatkan.
Ingatan
itu menyesakkan sungguh. Yah, anak kecil yang lugu itu adalah aku, sejuknya
kotaku, ramainya anak-anak kecil yang bermain di bawah deras hujan membuat
suasana hujan tak lagi mencekam, lihatlah disini, di kota perantauan ini, tak
ada satu bocah pun yang kutemukan diluar rumah, bermain hujan-hujanan.
Sejak
kecil aku terbiasa tinggal di rumah, saat orang-orang sibuk ingin merubah nasib
ke ibukota, aku dan keluargaku masih asik dengan rumah dan kesibukan kami, ayah
dan ibu yang seorang guru di sekolah, dan kedua adikku dan aku yang saat itu
masih bersekolah. Kami memang bukan keluarga terpandang, tapi ayah dan ibu
selalu mengajarkan untuk mementingkan pendidikan, bagaimana sulitnya orang
berilmu saat ini. Satu persatu ingatan tentang rumah kembali hadir, halaman
rumah yang penuh tanaman kesukaan ibu, kedua adikku yang selalu bertengkar dan
berebut mainan, ayah yang selalu pulang sore, aku teringat semua itu, dan aku
yang tiap sore bersama teman-teman bermain bola. Ingatan yang baru kusadari
setelah 4 tahun berlalu di kota orang ini, aku baru sadar dengan semua hal yang
indah itu..
4 tahun
bukan waktu yang sebentar, ibu bilang banyak yang sudah berubah di kota romantis itu, jalanannya, bangunannya, ibu
bilang saat ini kota kami sudah hampir menyerupai ibukota, padatnya
transportasi, bangunan yang tinggi bermunculan, kedua adikku sudah masuk SMA, ayah
sudah pensiun, dan ibu pun sudah lama berhenti mengajar.
Hujan
sore itu perlahan-lahan berubah menjadi gerimis kecil, dan halaman yang
menemaniku selama 4 tahun ini mulai tampak di depan mata. Ya, halaman kost yang
sudah ketempati selama aku tinggal di kota ini. Kurebahkan tubuhku sesaat,
sebelum waktu sholat maghrib tiba.
Ingatan
rumah kembali hadir, seperti kepingan puzzle yang hampir terkumpul, aku ingat
bagaimana tiap menjelang maghrib ayah mengajakku ke masjid dekat rumah, ayah
bilang sholat berjamaah pahalanya lebih besar dibanding sholat sendirian di
rumah, kecuali untuk perempuan. Perempuan boleh saja sholat di rumah. Semenjak
itu, kebiasaan sholat maghrib jamaah di masjid menjadi salah satu hal baik yang
bisa kubawa ke kota perantauan ini, ya setidaknya aku masih mau jamaah sholat
maghrib dan isya, selainnya, lebih nyaman dilakukan di kost.
Suasana
sore yang syahdu, langit yang kemerah-merahan, ramainya anak-anak kecil
berlomba ke masjid, anak-anak muda yang nongkrong di jalan, ibu-ibu yang
berkumpul di serambi masjid sambil menggendong anak bayi mereka yang masih
menyusui. Entah kenapa di kotaku, masjid menjadi segala pusat kegiatan, tak
hanya untuk yang baik-baik saja seperti sholat, pengajian, tapi juga tempat
ibu-ibu berkumpul kala sore sambil berbincang tentang rumah tangga mereka,
bergosip artis, dan membicarakan pemerintah yang masih saja tak pernah adil
pada rakyat kecil. Biasanya kala sore, ayah udah anteng di depan tv, menonton
berita sore, ibu menyiapkan makan malam, kedua adikku bermain diluar rumah, dan
aku, bersama langit yang malu, aku berdiskusi sendiri, dengan buku-buku, dengan
game, dengan majalah-majalah bola. Mungkin karena itu juga selama kuliah, saat
waktu-waktu libur aku malah sibuk traveling dan mengunjungi tempat-tempat baru,
itu mungkin sebagai luapan emosi karena selama usia remaja aku selalu tinggal
di rumah, tepatnya, tak suka berlama-lama diluar.
Selama
ini aku asik dengan kepura-puraanku, asik dengan dunia baruku dan mencoba lupa
bahwa aku pernah ada di suatu tempat yang menjadi permulaan sejarah hidupku,
namun saat ini kepura-puraan itu berbuntut panjang rupanya, tak disangka akan
seperti ini akhirnya, aku harus memilih diantara dua hal yang berbeda, aku
harus memilih antara dimana hatiku berada, dan pikiranku berada. Kupikir
kepura-puraan ini hanya akan kulakukan selama aku kuliah, setelah itu aku
berjanji pada diriku, kembali adalah keputusan, bukan lagi pilihan.
2 hari
pasca ujian skripsi..
Selamat saudara
rangga, anda mendapat penghargaan karena skripsi anda menjadi yang terbaik,
setelah ini anda diminta menghadap Prof.Dr.Muhammad Idris.M.Hum.
Berita
gembira itu seketika saja, seperti ribuan beban lenyap dalam sekejap, kerja
keras dan usahaku selama ini terbayar. Membayangkan wajah ibu dan ayah
tersenyum bangga padaku, aku tak bisa berkata-kata. Saat itu juga, aku
menghadap profesor yang menjadi salah satu penguji skripsiku, rasa bangga dan
penasaran menuntunku ke depan kantor beliau di lantai 3 kampus.
Kuketuk
pintu kantornya, seketika beliau mempersilahkanku masuk, seolah sudah tahu yang
akan datang ke kantornya hanyalah aku. Memang, beliau ini salah satu guru besar
yang cukup disegani di kampus, sedikit mahasiswa yang bisa dekat atau sekedar
berbincang sebentar dengan beliau.
“silahkan
duduk rangga” Senyum bangga di wajahnya terpancar, aku bisa
merasakannya.
“oh iya
prof, terimakasih”
Langsung
saja ni, jadi maksud saya memanggil kamu kemari, saya tertarik dengan
skripsimu, skripsimu luar biasa bagus dan amat sayang kalau studimu harus
berhenti pada level ini saja, saya punya keyakinan kamu bisa melanjutkan
penelitianmu ini di thesis. Senyum bangga beliau,
berita yang beliau sampaikan, membuatku merinding.
Nah,
tapiiii... senyum bangga itu sedikit ditarik, ada kecemasan menimpa
wajah tuanya. Menurut saya, penelitian ini lebih bagus kalau kamu lanjutkan
tidak di indonesia, tapi di luar negeri, dan kalau kamu mau, saya akan membantu
kamu untuk sampai kesana. Titik.
Antara
kaget, bahagia, semua bercampur, dan tanpa mempertimbangkan apapun, kuanggukan
kepala, menyetujui usul profesor tersebut. Ini kesempatan emas batinku, sejak
dulu aku memang sangat ingin ke luar negeri, kapan lagi bisa.
Siang
itu, aku berlari sepanjang koridor kampus, sampai ke kantin, ke masjid, aku
berteriak bahagia di depan teman-temanku, mereka turut bangga daan bahagia
setelah tahu aku bisa s2 ke luar negeri.
Sampai
di depan parkiran, tiba-tiba aku teringat sesuatu, aku teringat janjiku pada
ibu, pada sekolahku, dan rindu akan kota yang kutinggalkan selama 4 tahun ini,
mendadak aku menjadi bimbang dan berpikir kembali.
Jika aku
ke luar negeri, gimana nasib adik-adikku, ayah dan ibu sudah pensiun dan sudah
tua, siapa yang akan membantu mereka mengurus kedua adikku, sementara aku
adalah anak pertama, dan aku teringat akan janji juga pada sekolah yang
membesarkanku, aku akan disana dan membesarkan sekolah, lalu bagaimana dengan
s2 ke luar negeri?
Namaku rangga,
aku mahasiswa yang baru saja lulus, sebentar lagi akan wisuda, anggap saja itu
kebahagiaan terbesar seorang mahasiswa, tapi disisi lain, aku gundah, aku
cemas, aku bimbang, kegelisahan ini membuatku tak bisa tersenyum mendekati hari
wisuda.
Kuliah
s2 kan tidak selama sarjana, cukup 2 tahun sudah selesai, jadi tidak masalah
bukan jika aku meninggalkan lagi kotaku selama 2 tahun lagi.
Bisikan
satu muncul. Muncul lagi bisikan yang lain.
Bagaimanapun
juga, kamu anak pertama, orangtuamu sudah tua, adik-adikmu butuh bimbinganmu,
lanjut kuliah s2 yang dekat-dekat saja, tidak usah sampai ke luar negeri
segala.
Sepertinya
aku butuh istikharah, meminta yang terbaik pada Allah, manusia hanya bisa
berencana, selanjutnya Tuhan yang menentukan.
Hari
wisuda.
Keluarga
besarku dari kampung datang dan menghadiri wisudaku, ayah ibuku begitu bangga
ketika namaku disebutkan sebagai mahasiswa terbaik dan skripsiku terbaik. Entah
itu ibu dan ayah tahu apa itu skripsi atau tidak yang jelas ketika nama anaknya
disebutkan sebagai mahasiswa terbaik dan mendapat penghargaan tentu saja mereka
bangga dan bahagia. Momentum wisuda yang harusnya membahagiakan bagi kebanyakan
orang, tapi bagiku menjadi sebuah pintu kecemasan. Aku harap-harap cemas dengan
diriku, keputusan apa yang sebaiknya kuambil, dan kabar buruknya lagi aku masih
belum menceritakan perihal tawaran s2 ke luar negri pada ayah dan ibuku.
Alhamdulillah
nak, perjuanganmu gak sia-sia.
Ucap
ibuku dengan mengusap lembut pundakku.
Aku tahu
betapa bahagianya beliau sekarang ini, aku khawatir bila mengatakannya sekarang
akan menjadi beban pikirannya.
Kak,
tahu gak? Adik pertamaku naya, tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
Eh,
kenapa naya, tahu apa? Aku berusaha bersikap
biasa saja.
Kak,
besok ini aku lanjut kuliah disini, di jogja, aku keterima di universitas yang
sama ama kakak. Glek.
Naya
kuliah di jogja, kenapa aku baru tahu, aku lupa tahun ini dia sudah mengakhiri
masa SMA nya.
Iyakah?
Kok kak rangga baru tahu si. Jawabku
masih berusaha biasa saja.
Iyah,
naya besok kuliah di jogja, jadi kalau kakak mau lanjut s2 lagi di jogja kata
ibu gak apa-apa, ibu ngizinin kak kuliah lagi asal harus di jogja, katanya si
biar sambil jagain naya. Kata-kata naya mengalir
begitu saja tanpa rasa dosa.
Bagaimana
mungkin dia merasa berdosa, dia bahkan tidak tahu perasaan cemas apa yang
sedang kuhadapi.
Benar
bu? Aku mengalihkan pertanyaanku pada ibu yang sejak tadi
senyum-senyum mencurigakan.
Iyah
sayang, ayah sama ibu udah pikirin itu, kamu kalau mau s2 lagi gak apa-apa, mau
sambil kerja juga boleh, pokoknya asal di jogja, tahu sendiri naya ini kan
perempuan, pergaulan mahasiswa beda dengan di SMA, ibu khawatir sama anak
perempuan ibu satu-satunya ini. Ungkap
ibu sambil memeluk naya.
Pada
akhirnya, aku tidak sempat menceritakan tentang ke luar negri, ibu dan ayah
juga tidak menyinggung tentang aku yang tidak pernah pulang, aku tidak tahu
apakah ini jenis kebahagiaan atau kekecewaan.
Dan
inilah aku, rangga, mahasiswa pascasarjana, masih tinggal di kost yang sama,
sore yang sama, bedanya sekarang setiap 1 minggu sekali aku harus berkencan
dengan perempuan paling cantik kedua dalam hidupku, memastikan kesehatannya,
memastikan kuliahnya dan memastikan pergaulannya.
Jadi
apakah aku masih akan punya waktu bertemu dengan kota yang membersamaiku dan
menjadi sejarah masa kecilku?
Jawabannya
punya. Tapi tidak sekarang, tentu saja, aku harus kembali, tapi tidak saat ini.
Aku masih punya keinginan kuat itu, kelak aku janji selepas s2 ini selesai, aku
tidak akan lagi terganggu dengan tawaran apapun.
Pulang,
adalah jawaban, bukan lagi pilihan...
Jadi
kota apa yang tak akan pernah terlupakan?
Ya,
benar. Kota kelahiran.



0 komentar:
Posting Komentar